Sabtu, Juni 10, 2017

Si Gadis Kota Menginap di Rumah Tetangga

Di antara teman masa kuliah, Yunike NS adalah salah seorangnya yang jarang bisa saya temui. Lainnya, saya gampang janjian. Waktu mereka tersedia lumayan lowong, terutama sore atau malam. Untuk Nunik, panggilan saya ke dia, wah ... bakal seperti mau minta tanda tangan artis.

Singkat cerita, saya bertemu Nunik pada malam ketiga takziyah mendiang ayahnya, Najamuddin Sultan, kepanjangan inisial yang selama ini ada di belakang namanya. Menjelang pulang, Nunik punya permintaan berat. “Pinjam Isobel semalam,” katanya.

Saya pikir, permintaan itu sepertinya akan menyempurnakan pertemuan Isobel dengan Illi, anak perempuan Nunik, yang pertama dan terakhir tahun 2010 lalu. Dua balita ketika itu bermain seperti biasa waktu itu. Tapi yang lucu bagi kami adalah kemiripan wajah mereka.
Pertemuan Isobel dan Illi tahun 2010.
Di jalan dan di rumah, saya semula tidak percaya. Bukankah Nunik sibuk? Tapi lewat pesan Whatssap yang beruntun, dia yakinkan lagi dengan pertanyaan ‘boleh ‘kan”. Saya tahu persis Nunik bagian ini. Ngototnya tak terperi.

Dalam pikiran saya, ada baiknya kesempatan ini dipakai. Isobel bakal mengalami satu pengalaman baru: menginap di rumah asing. Apalagi bersama si empunya rumah, Illy yang jadi teman bergaul sesama perempuan muda. Sayangnya, Piyo, istri saya, belum rela. Ia enggan melepas perawatan anak ke orang ‘baru’—meski ‘cuma’ semalam.

Rupanya dari percakapan kami, saya jadi tahu bahwa pengalaman Piyo menginap di ‘rumah orang’ memang nihil. Ia besar di Wawondula, permukiman sekitar Sorowako, kota kecil yang menjadi lokasi tambang nikel PT Inco (sekarang PT Vale). Tumbuh di permukiman berkarakter kota (dengan para penghuni yang dipertemukan kewajiban kerja seperti Wawondula dan sekitarnya) tampak kecil mungkinnya Piyo (untuk tidak mengatakan: nihil) untuk mencicipi pengalaman seperti kami.

Berbeda dengan saya dan Nunik, kami besar di kampung. Saya di Rappang, Nunik (rasanya) di Polmas. Menginap di “rumah orang lain” adalah satu hal yang sudah biasa. Nunik mengaku masa kecilnya sering bersama saudara sepupunya menginap. Saya kurang atau lebih juga begitu. Besar di kampung belum ada rasa khawatir tentang “rumah orang lain”. Iler saya pernah menjajal seprai dan bantal tetangga kiri kanan depan belakang. Begitu juga tetangga dan sepantaran masa kanak dan remaja pernah tidur di rumah saya.

Saya pun yakinkan Piyo kalau Nunik dan saya bukan kenal baru kemarin. Saya dan Nunik seangkatan kuliah. Kami satu ‘letting’ hampir empat puluhan orang saja. Sejak mahasiswa baru sampai ada tulisan ini kami masih sering bertemu (tentu tidak lengkap). Bahkan waktu di kampus, angkatan kami terlalu mencolok karena selalu berombongan (hal yang pernah ditanyakan beberapa junior angkatan tentang tabiat ini dan dari Piyo sendiri). Di masa-masa paceklik yang mengharuskan kami menginap di kampus (demi menanggung lapar berjamaah karena kiriman tersendat), Nunik bisa tiba-tiba jadi dewi penolong. Bermodal telepon koin, kami mengebel rumahnya untuk cari kemungkinan apa bisa membawa serantang nasi dan lauk dari rumahnya di BTN Hamzy ke Kampus Unhas. Dan modal keping seratus bergambar rumah gadang itu kami nyaris tidak pernah gagal membawa bekal dari sana. Yang tidak mungkin saya lupakan sepanjang hayat adalah pengalaman tahun ketiga mahasiswa ketika Nunik memaksa Kak Mus, kini suaminya, untuk mengurung saya agar istirahat seminggu usai mereka ‘seret’ ke dokter karena  dihajar tipes.

“Di kota, tetangga kita mungkin bukan rumah yang ada di samping. Tetangga kita adalah teman-teman dekat seperti Nunik,” kata saya.

Piyo yakin pada akhirnya.

Beda dengan Piyo yang pelan-pelan baru mantap, Isobel justru meloncat begitu ditawari “menginap di rumah Kakak Illi” sepulang takziyah. Segera ia siapkan semuanya (padahal belum pasti dibolehkan). Tas diisi mainan dan beberapa lembar pakaian. Respons seperti itu selalu Isobel muncul kalau mendapat tawaran pengalaman dan perjalanan baru, seperti kalau mengajaknya ke kampung.

Nunik datang menjemput Isobel dua hari kemudian. Begitu naik di mobil, Isobel mengolok ibunya, yang masih berat melepas penuh gadis delapan tahun itu menginap di “rumah orang lain”. Kiriman pesan beruntun dari Nunik yang kemudian makin membuat Piyo yakin bahwa segalanya berjalan baik-baik saja.

Isobel dan Illi tiba di Hamzy. Kedua gadis kecil ini membahas baiknya menginap di mana: Hamzy atau Sudiang. Mereka lalu putuskan di Sudiang. Mereka main perang bantal di sana, sebelum minta matikan lampu jam 11.00 malam untuk siap-siap bangun sahur. 
(Foto-foto: Yunike NS)
Isobel, kata Nunik, terbangun jam 3 untuk sahur (tahun ini ia mulai puasa penuh). Mungkin karena tempat baru. Keesokannya mereka menggambar di kamar, lalu berangkat ke taman bermain di mal.

Saya tidak tahu pasti apa guna acara ‘nginap’ begitu. Untuk anak yang tumbuh di kota kayak Isobel (dan mungkin juga bagi Illy), pengalaman ala kampung macam itu bisa jadi cara mempelajari suasana lain, belajar jadi tamu, bagaimana bertoleransi, bergaul dengan sepantar, atau mengalami tentang “teman-teman dekat adalah tetangga”.

Bagi Nunik, ia akui sedang belajar seperti bagaimana ia menaklukkan hati Illy yang sempat ngambek karena sang ibu berbagi perhatian pada anak lain. Saya menduga-duga, sedikit banyak, kesibukan Nunik berkantor mungkin mengurangi intensitasnya bersama Illi. Semoga tidak.

Bagi saya dan Piyo, saling percaya memang harus dipelajari dan diasah. Berkali-kali. Bahkan terus-menerus. Barangkali.[]

Senin, Juni 05, 2017

Geliat Ekonomi Kerakyatan di Paotere

Mengapa Makassar (Masih) Penting bagi Indonesia Mutakhir?

KETIKA Presiden Joko Widodo mencetuskan “... Memperkuat jati diri sebagai negara maritim” dalam sembilan program pokok pemerintahannya, Kota Makassar seperti mendapat angin segar lagi. Kota berwilayah 70 persen berupa laut (995 km2) seperti tinggal menunggu momentum formal ini. 

Dengan letak geografi sebagai penghubung Indonesia Barat dan Timur, industri perikanan Makassar sejak lama menjadi pemasok penting Nusantara. Kota ini pun menghidupkan dunia pelayaran nasional dan pelayaran rakyat sedang dan kecil sebagai titik utama bongkar muat barang dan manusia. Keduanya menyatu dalam satu poros hidup: Paotere.

Inilah daerah yang meliputi dua titik utama, Pelabuhan Rakyat Paotere dan Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Paotere. Dua tempat berdampingan ini terletak di Jalan Barukang, Kecamatan Ujung Tanah, bagian utara Makassar, 6 kilometer di barat muara Sungai Tallo.

Pada awal dasawarsa 1990, Paotere memperkuat kapasitasnya. Wisata Bahari Makassar (2006) menyebut, sejak tahun 1982 kolam pelabuhan dilindungi pemecah gelombang sepanjang 400 meter; kolam 4,56 hektar berkedalaman antara 1-6 meter dengan dermaga sepanjang 820 meter. Kolam ini bisa menampung 200 perahu, dan terdapat 400-500 buah kapal dari 40 perusahaan pelayaran yang secara berkesinambungan menggunakan fasilitas ini.

Sampai kemudian di bandar ini berkumpul perahu-perahu tradisional seperti kapal kargo lambo dan pinisi atau perahu-perahu penumpang antar pulau seperti jolloro atau katinting (Lihat Tabel 1). 

Tabel 1 Jumlah kapal yang berlabuh di Pelabuhan Paotere 2007-2016.

Kapal dan perahu ini berperan utama dalam lalu lintas barang dan manusia dari dan menuju Makassar. Paotere seluas 10 ha ini menjadi terminal bagi masyarakat di kepulauan sekitar Makassar, seperti Pangkep, Maros, Takalar, dan pulau-pulau yang ada di Selat Makassar.

Menurut Kepala Pelindo 4 Unit Paotere, Amirullah, mereka biasanya bawa ikan, lalu pulang membawa barang kebutuhan masyarakat di pulau-pulau. “Ini bisa kita sebut ‘pelayaran semut’, lubang-lubang sekecil (baca: pelosok) bagaimana pun mereka masuki,” kata Amirullah. 

Selain kawasan sekitaran Makassar, kapal-kapal kayu yang berasal dari Paotere menuju ke daerah di Indonesia Timur seperti Samarinda dan Balikpapan (Kalimantan Timur), Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Palu, Toli-Toli, sampai Manokwari (Papua).

“Kapal-kapal dari pelabuhan rakyat seperti ini sejak lama seperti tol laut karena berlayar lurus-lurus, mereka tidak pernah mengambil rute menghindari kedangkalan. Berbeda dengan kapal modern yang harus memutar sebab mempertimbangkan kedalaman,” terang Amirullah, tersenyum.

Selain itu, aktivitas bongkar muat di Paotere menunjukkan bahwa ia juga menjadi pintu pemasok kepulauan sekitar dan wilayah Indonesia Timur, dengan membandingkan antara barang yang diturunkan (Bongkar) ke dan yang dinaikkan (Muat) dari Makassar (lihat Tabel 2).
Tabel 2 Jumlah Aktivitas Bongkar Muat di Pelabuhan Rakyat Paotere, Makassar, 2007-2016 (dalam Ton/M3/Ekor)

SELAIN pelabuhan, suplai ikan yang dipasok oleh Makassar ditopang lima pelelangan, yakni Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Paotere, TPI Rajawali, TPI Barombong, Daya, dan Langgau. Sekurangnya 70 – 100 ton ikan berdatangan ke sana setiap hari, baik pasokan dari kabupaten maupun hasil tangkapan nelayan Makassar yang berjumlah 14.375 jiwa. 

Tonase itu kemungkinan besar segera bertambah lantaran Pemerintah RI merampungkan dan meresmikan Pelabuhan Untia pada 2016, bandar terbesar kedua di Indonesia yang mampu menampung 500 kapal per hari. 

Menurut Kadis Perikanan dan Pertanian Makassar, DR. Abdul Rahman Bando, sebagai pemasok ikan, Makassar menyediakan dua gudang pendingin di Paotere (kapasitas 100 ton) dan Untia (40 ton). 

PPI adalah satu dari sedikit titik di Makassar yang tidak pernah tidur. Aktivitas bongkar muat PPI mulai pagi sampai pagi berikutnya dan seterusnya. Perahu yang mendaratkan ikan tangkapan akan dijemput oleh banyak tangan. Dari perahu menuju punggawa, lalu ke pagandeng (pengayuh sepeda atau pengendara motor) yang menyebar dan berkeliling ke pelosok kota yang menjual ikan sampai ke kompleks perumahan dan disalurkan ke rumah-rumah makan sebesar 35-40 ton; atau dijemput mobil-mobil pengangkut dari daerah lain, atau sebagian lagi diboyong ke kawasan KIMA untuk dipilih oleh pengirim ke daerah lain di Indonesia (pertengahan Maret 2107, nelayan binaan Dinas Perikanan mengirim 20 ton ikan ke Jakarta) atau diekspor ke Singapura, Timur Tengah, atau Eropa. Kesibukan di sana baru cenderung surut begitu matahari meninggi.

Tabel 3
Perikanan Tangkap Makassar Tahun 2014 (Tidak Termasuk Perikanan Air Tawar)

NAMUN potensi perekonomian itu kelak sia-sia tanpa kebijakan pemerintah yang memadai. Kepala Pelindo 4 Unit Paotere, Amirullah, daya jelajah kapal-kapal kayu itu jelas memerlukan perlindungan. Ia melihat bahwa nilai strategis ‘pelayaran semut’ ini menjadi jembatan penghubung pulau satu dengan pulau lain. Untuk itulah dibutuhkan regulasi terkait perlindungan bagi pembuatan kapal kayu.

Sudah jamak bila ada kapal kayu karam, belum tentu segera terganti kapal kayu lain. Itu belum lagi bila mempertimbangkan soal bahan baku. 

“Dengan memberi aturan khusus yang berkaitan dengan pembuatan kapal kayu, juga pertimbangan kelangkaan bahan baku, maka pemerintah perlu berpikir regulasi soal ini,” terangnya.

Pekerjaan rumah lain bagi Paotere adalah lalu lintas. Tiga tahunan bertugas di Paotere, kata Amirullah, kapal kayu begitu banyak. Sayangnya, belum terorganisir baik. 

“Dalam 1 x 24 jam, kapal besi sudah melapor sebelum sandar. Tapi kapal kayu justru sudah sandar 1 x 24 jam, belum meminta PPKB (Permohonan Pelayanan Kapal dan Barang) juga,” katanya, terbahak.

Dari perikanan, nilai produksi perikanan kawasan Selat Makassar terancam turun. Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menyebut nelayan Sulawesi Selatan dikenal sebagai ‘penjahat laut’ karena biasa menggunakan peledak kala menangkap ikan yang menyebabkan sekisar 80 persen terumbu karang di Sulsel rusak.

Abdul Rahman Bandu dalam penelitiannya di Kepulauan Spermonde menyebut, keterbatasan alat tangkap sebagai satu sebab. 

“Nilai modal seperti BBM dan kebutuhan selama melaut tidak bisa seimbang dengan nilai tangkapan (produksi). Wajar kalau mereka pakai bom. Itu ditambah untuk membeli alat tangkap lebih besar yang tersedia nyatanya mahal karena rata-rata barang impor. Karena itulah ada ketergantungan pada pemodal yang membuat mereka berutang tanpa henti,” ungkapnya.

Bagi Abdul Rahman, kebijakan pemerintah baiknya tidak berhitung untung rugi jangka pendek bagi masyarakat pesisir atau kepulauan. Mereka perlu dikuatkan dengan pembangunan fasilitas seperti gedung sekolah tanpa menghitung rasio murid, telekomunikasi, pengisian bahan bakar dan oksigen, fasilitas pengolah air bersih, dll.

Paotere dengan daya tampung, daya serap, dan daya jelajah distribusinya membuktikan bahwa titik ini amat penting bagi Indonesia mutakhir. Selayaknya, Nawa Cita Presiden Jokowi menjelma sebagai momentum formal yang berpihak dan melindungi geliat ekonomi kerakyatan kawasan Paotere dan sekitarnya.

Saatnya bangsa ini melihat peluang bukan dalam alur logika ekonomi. Menopang kehidupan nelayan menjadi langkah penguatan daya yang menggeliatkan dunia maritim Indonesia, hamparan yang mendominasi negeri kita. Bila pun memasukkannya dalam nalar ini, ia patut menjadi rangkaian sirkuit investasi, sebentuk pengembangan masa depan. Jalan leluasa menuju masa mendatang yang matang bagi Indonesia.[]

(Terbit di Esquire Indonesia, Mei 2017)

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP