Kamis, Maret 12, 2015

Christian Honoré Louis Pelras (17 Agustus 1934–19 Juli 2014)

Christian Pelras, salah seorang peneliti terpenting Sulawesi Selatan, terutama masyarakat Bugis, meninggal 19 Juli 2014. Rekannya, Campbell Macknight, peneliti dari Australia, menulis kenangannya tentang Pelras. Dalam satu kesempatan saling balas email, Macknight mengirimkan dan mengizinkan tulisan yang awalnya berbahasa Inggris ini diterjemahkan.
Christian Pelras di Benteng Somba Opu, 1996. (foto: Campbell Macknight)
Ketertarikan Christian Pelras kepada Indonesia bermula tahun 1960 ketika seorang kawan menunjukkan kepadanya sebuah beasiswa yang ditawarkan Pemerintah Indonesia untuk menggalakkan penelitian. Inilah yang membawanya berkunjung ke Jakarta dan mulai meneliti Indonesia. Agak jarang upaya pemerintah seperti ini berujung keberuntungan. Kuantitas maupun kualitas penelitian tentang Indonesia yang dihasilkan Pelras selama lima puluhan tahun, sungguh karya yang luar biasa.
Pendekatannya, menurut dia, etnolog harus berusaha memberi ruang dialog antara kebudayaan di mana ia tumbuh dengan kebudayaan lainnya. Pada satu kesempatan, dalam guyonan tentang citra antropologi Prancis yang cenderung teoretis dan sastrawi, ia katakan utang budinya kepada André Leroi-Gourhan. Pengaruh Leroi-Gourhan tampak pada ketertarikan besar Pelras kepada teknologi. Kala kembali ke Indonesia tahun 1967, titik berat riset Pelras dicurahkan pada pertenunan. Padahal, sebelum ini, ia bergabung sebagai anggota tim yang mempelajari komunitas lokal di Brittany (kawasan barat-laut Prancis) dan di sinilah ia menulis disertasinya, yang kemudian terbit sebagai buku. Ia belakangan menekuni kembali daerah ini di pengujung kariernya.
Tahun 1967 juga Pelras bertemu kali pertama dengan perantau Bugis di Malaysia Barat lalu menelusuri jejak orang itu hingga ke kampungnya di Wajo, Sulawesi Selatan. Pelras kemudian tinggal di sana dari Desember 1967 sampai Juli 1968. Laporan perjalanannya ini lalu menunjukkan luasnya ketertarikan dan penguasaannya atas bahan-bahan terkait. Cikal bakalnya tumbuh banyak artikel yang menyusul tengah disemai seiring kerjanya memperdalam pemahamannya tentang Bugis dan menjelajahi data yang demikian luas.
Posisinya di Centre National de la Recherche Scientifique, juga kemudian di beberapa institusi di Paris, memberinya keleluasaan waktu dan peluang, begitu dia menemukan bidang spesialisasinya, untuk lebih mendalami aspek sejarah, kebudayaan dan kemasyarakatan Bugis. Ia dikenal baik di banyak tempat di Sulawesi Selatan. Saya ingat ketika melakukan perjalanan di sejumlah kawasan terpencil pada 1972, sebagai seorang bule yang sedang meneliti, saya disambut dan dianggap sebagai Perancis. Itu berarti Pelras pernah ke sana sebelumnya.
Berkali-kali ia kembali ke lapangan dan bekerja sama dengan peneliti setempat, hampir selama dua tahun sebagai tenaga ahli asing di Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial di Universitas Hasanuddin. Ia sering didampingi oleh istrinya Marie-Thérèse dan putranya Frédéric, mencoba sebisa mungkin menjadi bagian masyarakat yang ditelitinya, yang tentu saja tidak selalu nyaman bagi keluarganya.
Pelras bukanlah spesialis yang menyempitkan pandangan hanya pada satu disiplin atau kawasan tertentu. Satu yang terpenting, pada tahun 1971, ia bersama rekannya Denys Lombard dan Pierre Labrousse mendirikan jurnal Archipel: Archipel: études interdisciplinaires sur le monde insulindien, yang berkembang menjadi wadah penelitian yang dinamis sekaligus berwibawa. Ia juga bertanggungjawab besar untuk manajemen riset di Paris.
Nama Pelras paling dikenal pembaca bahasa Inggris karyanya, The Bugis (1997). Versi Indonesianya, Manusia Bugis, terbit 2006, disertai revisi dan pengembangan yang penting. Menurut hemat saya, penelitiannya yang lebih bagus justru tampak dalam sejumlah artikel panjang tentang beraneka topik. Di sana ia punya ruang lapang untuk menunjukkan betapa kuat penguasaannya terhadap materi-materi tersebut. Pada 2010, rekan-rekannya menyiapkan sebuah buku—atas nama Pelrasyang menyuguhkan deretan artikel paling penting dari karya-karyanya itu, Explorations dans l'univers des Bugis: un choix de trente-trois rencontres (Cahier d'Archipel 39). Terbitan ini merupakan sumber penelitian yang sangat luas, luar biasa menarik karena ragam topik bahasannya: struktur politik dan sosial, rumah, agama, cerita rakyat, pakaian, makanan, pertanian, sastra, sejarah, dan, tak kalah penting, sebuah keasyikan dengan jagat I La Galigo. Warisan besar lainnya adalah koleksi artefaknya yang tercatat rapi di Musée de l'Homme; di sana tampak betul pengaruh awalnya. Kita pun sangat berharap agar koleksi rekaman, film, dan kertas kerjanya segera diarsipkan dengan layak.
Tahun-tahun akhir hayatnya dibayangi sakit yang parah. Simpati kami terkirim untuk keluarga dan orang-orang terdekatnya yang terus mendukungnya. Di luar itu, betapa manisnya mengenang Pelras di Indonesia, di Prancis, dan ketika beberapa kali berkunjung ke Australia sebagai rekan yang hangat dan sahabat yang sangat baik(C. Campbell Macknight)
NB: Terima kasih Nurhady Sirimorok memeriksa dan mengedit terjemahan saya. 

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP