Rabu, Desember 28, 2011

Nyamuk-nyamuk di Punggung Sulawesi

Budi daya kelapa sawit menjadi salah satu penyebab menurunnya populasi orang utan akibat penebangan dan terbakarnya hutan di Kalimantan. Hal serupa terjadi di garis lintang yang sama, di timur pulau raksasa Kalimantan, di punggung Sulawesi, di kawasan Mamuju Tengah, tepatnya di Kecamatan Tobadak, 180-an kilometer utara Mamuju. Hilangnya hutan demi lahan kelapa sawit menciptakan mintakat (zona) malaria. Bagaimana penduduk setempat menangkal demam ini?

LETAK Kecamatan Tobadak berkisar 180 kilometer di utara Mamuju. Wilayah kecamatan ini penuh batang-batang kelapa sawit. Lebih cepat sampai di sana bila berangkat dari Palu ketimbang dari Makassar. Karena, kata orang, jalanan dari Palu lebih mulus dibanding dari Makassar. Pelebaran jalan trans Sulawesi dari Makassar sampai di Mamuju belum selesai. Setidaknya begitulah yang saya alami ketika berangkat ke sana pada pertengahan tahun 2011. 
Salah satu bagian poros Trans Sulawesi, sekitar Topoyo. (foto: Anwar J Rachman)
Sejak pemekaran Mamuju-Majene-Polewali Mamasa menjadi Sulawesi Barat, pemerintah provinsi baru menggalakkan pembangunan fisik, termasuk jalan. Sebelumnya masih jalan kecil dan tak mulus. Bahkan jalan menuju Tobadak hanya separuh beraspal. Begitu kendaraan masuk di hamparan belantara sawit di Tobadak, Anda akan temui jalan berbatu berkerikil. Menutup kaca mobil cara paling aman agar bebas dari kepulan debu sepanjang jalan.

Tobadak merupakan kawasan hutan di timur Topoyo, sebuah kecamatan di poros trans Sulawesi yang santer disebut calon ibukota Mamuju Tengah. Para transmigran membuka Tobadak sekitar tahun 1993 silam. Awal pembukaan, Tobadak berpenghuni 121 kepala keluarga. Nyaris seluruhnya berasal dari Bakaru, Polmas. Semua beragam Kristen dan awalnya bermukim di daerah pegunungan. Hanya Haji Rustam yang beragama Islam dan orang pantai.

Menurut H Rustam, ia datang sendiri saat mengantar 121 KK ke kawasan Tobadak sekarang. 
H Rustam tidak bersama istrinya karena sang istri baru melahirkan anaknya yang bungsu. Dua minggu setelahnya baru ia berangkat mengambil istrinya di Polmas. 

Waktu datang pertama H Rustam tidur memakai kelambu. Ketika itu ia belum tahu obat apa yang ampuh untuk malaria. Ganasnya malaria ia gambarkan dengan, “Sapi dan kuda mati dimakan nyamuk. Na bungkus nyamuk. Kuda dulu pembagian di sini! Mungkin mati capek karena tidak berhenti lari kalau malam!”

Penangkal malaria warga desa ini adalah empedu ular sanca. H Rustam mengungkapkan, ia mendapatkan pengetahuan ini dari kalangan pengusaha Tionghoa. “Itu mi aslinya obat China!” serunya.

Namun H Rustam tidak mau merekomendasikan empedu sanca ke banyak orang. Ia hanya memberi obat tradisional itu bila mereka datang meminta. “Saya takut kalau ada risikonya. Tapi Alhamdulillah, tetangga sebelah (menunjuk depan rumahnya) sembuhnya makan begitu. Banyak uangnya dia pakai berobat, sampai rontok rambutnya, tapi tidak sembuh-sembuh. Ke sini pi minta baru saya kasih,” kata istrinya.

H Rustam mendapatkan empedu ular sanca kala membersihkan lahan pembagian para transmigran awal membuka hutan. Beberapa lama pun ia bersama istri menekuni usaha jual beli kulit ular. Siang malam keduanya menguliti ular sanca di masa pertama mereka menekuni usaha itu. Sambil jual beli kulit, H Rustam sempat mengumpulkan empedu ular pesanan pembeli di Makassar. Beberapa tahun lalu, kata lelaki berkumis itu, harga empedu sanca mencapai Rp7 juta per kilogram. Tapi, kata H Rustam, sekilogram itu, setidaknya, membutuhkan 130 ekor sanca. “Saya tidak pernah menumpuk (empedu ular) karena pengusaha Tionghoa selalu datang ambil. Paling banyak setengah kilo.”

Beberapa kalangan juga sudah menggunakan obat alami ini. Seorang pejabat polisi setempat, kata istrinya, sesekali meneleponnya meminta persediaan empedu sanca. “Kalau sudah dimakan, semua makanan enak dilihat,” kata H Rustam, meyakinkan. 

H Rustam lalu menelan mentah-mentah empedu sanca yang sudah ia keringkan. Istrinya menyimpan empedu itu di lemari dekat ruang tamunya. Beberapa saat kemudian, H Rustam menunjukkan dadanya yang sudah berkeringat—kendati cuaca hari itu tidak terik. “Pokoknya  dikasih sehat ki!”

Sebenarnya, menurut H Rustam, khasiat empedu sanca sebesar ukuran kelingking itu belum seberapa dibanding empedu ular sendok. Bisa menyembuhkan banyak penyakit. Namun ular yang bisa disebut kobra itu lebih banyak ia dapatkan di Kalimantan. Bila empedu sanca tidak ada, banyak obat alami bisa dipakai jadi obat, seperti cacing tanah yang menyembuhkan sesak napas sampai daun maja direbus sembilan lembar (asal berjumlah ganjil) untuk mengobati kencing manis. “Waktu Aji (Haji, suaminya) ke Mekkah, tidak naik haji ji. Pergi ji ma’dukung (mengobati orang),” ujar istrinya.

H RUSTAM merupakan salah seorang tokoh masyarakat Tobadak. Bisa jadi karena ia adalah orang yang mengantar para transmigran yang kini bermukim di kecamatan itu. Ditambah lagi lelaki berusia 55 tahun ini kerap menjadi tempat tetangganya mencari obat alternatif semacam penangkal malaria.

Kawan baik saya, Ridwan Alimuddin, seorang penulis yang tinggal di Polewali, mengenal nama itu. H Rustam terkenal sekali, kata Ridwan. Seorang kawan lain, Kemal, membenarkan. Kemal, mahasiwa Kelautan Unhas asal Mamuju, melihat H Rustam kala ricuh pilkada gubernur Sulbar. Kala itu massa nyaris bentrok karena para pendukung kandidat masing-masing bertahan. Tiba-tiba, tutur Kemal, naiklah H Rustam menghardik satu kubu pendukung agar pulang. Pendukung, yang sebagian besar bersenjata tajam, seperti mendengar perintah seorang pemimpin. Mereka menurut lalu membubarkan diri. 
“Mungkin ada ilmu pa’gerra’-nya itu Haji Rustam!" duga Kemal. Pa’gerra’ semacam kharisma yang membuat orang jadi menurut.

Sebelum bermukim di Tobadak, H Rustam melanglang buana ke banyak tempat, terutama Malaysia—tujuan lazim para lelaki Sulawesi. Ia pernah setahun di hutan Sabah, ikut seorang cukong kayu gelondongan Tionghoa-Melayu. Rustam nyaris tewas di sana karena kecerobohan sendiri. Ia masuk mobil tangki pengangkut solar. Tangki itu sudah kering. Rustam yang kecapekan bekerja mengecat tangki, tak bisa melawan kantuk. Ia masuk tangki untuk tidur karena takut beruang dan ular sendok. Kawasan tempatnya bekerja masihlah hutan lebat. Sehari semalam Rustam mendekam di tangki. Untung terdengar bunyi air yang ada di samping tangki. “Saya dengar ada orang cuci kaki dari lubang di bawah tangki. Saya langsung ketuk-ketuk tangki teriak minta tolong. Ternyata ada orang Dayak yang cuci kaki dengar dan mengeluarkan saya. Hampir betul ka mati!” seru Rustam dengan mata membelalak.

Sebelum masuk hutan Sabah, Rustam juga pernah bersama Basri Masse di Malaysia. Basri Masse adalah seorang migran Indonesia asal Parepare, terpidana mati karena tuduhan mengedarkan obat-obatan terlarang. Berita Basri sempat mewarnai media cetak Indonesia pada awal 1980-an lalu karena hukuman ini. Basri Masse ditangkap di Labuan. Namun Rustam lolos karena dengan cepat menyamar sebagai nelayan dengan mengambil sarung nelayan setempat. “Saya langsung pegang tali perahu jadi dikira nelayan di situ,” kenang Rustam. Rustam segera pulang ke Indonesia pada hari eksekusi Basri.

Menurut Rustam, tertangkapnya Basri lantaran seorang intel selalu mengikuti mereka selama di sana selama setahun ‘sampai rambut si intel gondrong’. “Obat-obatan itu diperoleh dari warga keturunan Tionghoa di Malaysia,” ungkap Rustam.

NASIB WILAYAH lain tak jauh beda dengan Tobadak. Kasma, istri Kepala Desa Tumbu, Al Habsi, juga pernah menderita malaria 2003 silam. Kasma mengira hanya sakit kepala biasa. Tapi sakit kepala yang ia derita rupanya tanpa jeda. Keesokan harinya ia langsung berangkat ke Puskesmas Topoyo untuk memeriksakan diri."Waktu itu, sakit kepala tidak ada jeda, muntah-muntah, panas, menggigil," terang Kasma.

Obat paling lazim adalah daun dan akar pepaya, dengan merebus dan meminum airnya. Menurut seorang pengusaha sebuah rumah makan di Topoyo, ketika tiba pertama kali di Topoyo, suaminya menderita malaria. Hanya air perasan daun pepaya yang membuatnya sembuh.

Warga Tumbu bernama Tahir (70), malaria muncul justru di musim pancaroba. Selain pepaya, ia dan keluarga memakai bilajang kurita untuk menghindari momok malaria. "Cukup iris dan potong kecil-kecil (bilajang kurita) dan masukkan ke air panas. Nanti kalau sudah potongannya tenggelam, airnya sudah dingin, nah itu boleh diminum," ungkapnya. Harfiah bilajang kurita adalah 'tali gurita', tanaman rambat seperti tangan gurita.

Selain pepaya dan bilajang kurita, Pak Tahir juga memberi resep daung pai-pai. Bisa jadi sambiloto nama Indonesia-nya. Helai daunnya seperti kemangi. Pahit benar. Rasanya tertinggal di batas mulut dan tenggorokan.

Hanya Desa Lara yang punya obat lain selain pepaya. Orang setempat menyebutnya Buah Nase'. Buah itu sepintas serupa dengan jagung. Namun ukurannya sebesar lengan orang dewasa. Pohonnya, menurut Pak La Tani, mirip dengan pohon pandan. Biasanya, kata La Tani, tumbuhnya hanya di hutan. Itu pun biasa dibawa keluar hutan oleh para pencari rotan.

"Banyak yang beli biasa. Mereka (para pencari rotan) cuma titip sama saya," ujar La Tani, pria tuna netra, migran dari Sidrap. Buah Nase' dipakai sebagai obat luka dalam. Cara menyajikannya, buah dicuci dan diremukkan, lalu dimasak hingga mendidih. []

Selasa, Desember 20, 2011

Distorsi Objek dalam Seni Lukis

(Tinjauan Kritis atas Strategi Artistik Penciptaan Seni)

Dunia seni telah menjadi kompetitif dan eksploitatif, dan bahwa fokus
di dunia seni hanyalah pencarian keuntungan. Tidak hanya ini, untuk membatasi ekspresi artistik, mereka mengabaikan perhatian penting seni,
yaitu estetika dan etika. - Suzi Gablik

Big Sale, karya Tjokorda Bagus Wiratmaja (dokumentasi: Firman Djamil)

Penciptaan seni yang mengambil Lingkungan Alam sebagai fokus penciptaan bagi seniman merupakan fokus yang sangat menarik dan menginspirasi. Fenomena alam melalui  peristiwa-peristiwabaik yang diakibatkan oleh ritual alami melalui peristiwa alam yang menimbulkan bencana, maupun yang diakibatkan oleh intervensi manusia melalui eksploitasi—yang memberi konsekuensi kerusakan lingkungan. Baru saja kita semua mengalami masa naas letusan Merapi. Begitu juga dengan peristiwa Lumpur Sidoarjo yang diakibatkan oleh kelalaian manusia. Perusakan akibat eksploitasi hutan Indonesia (illegal logging) dan penguasaan Hak Atas Hutan oleh korporasi, sangat mempengaruhi iklim global karena hutan Indonesia (di samping hutan Brazil) merupakan penyokong nafas dunia lewat produksi O2 dan juga sebagai fungsinya sebagai menampung air dan menyerap efek rumah kaca. Hal lain yang menjadi masalah lingkungan di Indonesia adalah masyarakat konsumerisme yang menjalar sampai ke desa-desa. Konsumerisme memproduksi jutaan meter kubik sampah kemasan plastik tiap hari yang bermasalah pada ekologi.

Wacana di atas ditangkap oleh Tjokorda Bagus Wiratmaja sebagai fenomena yang dapat menjadi sumber inspirasi penciptaan karya seni lukisnya. Karya lukisan Tjokorda Bagus Wiratmaja yang bertema “Distorsi Objek Dalam Seni Lukis”, salah satu yang dibahas pada seminar Penciptaan Seni II pada Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2010 lalu.

Dalam proses penciptaannya, Tjokorda mencoba mengamati fenomena alam tersebut yang memfokuskan pada kerusakan alam dan dampak sosialnya. Berdasarkan pengalaman empirik dan pengamatannya melalui media informasi, seperti siaran TV dan dokumentasi melalui rekaman DVD-Discovery Channel, Tjokorda menangkap kemungkinan artistik melalui distorsi bentuk pada objek-objek yang diamatinya. Distorsi bentuk tersebut akan diterjemahkan melalui interprestasi artistik untuk mewujudkan bentuk abstraksi ke dalam karya lukisnya.

Salah satu hasil karya Tjokorda berjudul “Big Sale”, merupakan karya yang tercipta dari hasil pengamatan atas kerusakan habitat Harimau. Tjokorda menangkap momentum artistik Harimau melalui belang kulitnya. Belang kulit Harimau ini di visualisasikan di atas kanvas melalui elemen garis, bentuk, warna, tekstur dan bentuk dalam irama ekspresif. Tjokorda menggunakan pula teknik palet sebagai upaya mengorganisir keutuhan visual yang harmoni. Selain itu, dalam pencapaian estetiknya, Tjokorda mempertimbangkan pula aspek proporsi, komposisi, volume terang-gelap, dan keseimbangan untuk mendekati konsep distorsi bentuk yang dikehendakinya, seperti pada makalah yang dituliskannya dalam konsep perwujudan karya.

Dalam menyimak pencapaian artistik karya-karya Tjokorda, pencapaian aspek visual terutama pada dukungan teknik palet dan eksplorasi medium cat pada kanvasnya tampaknya memiliki keunggulan tersendiri dari segi kualitas material. Namun dalam hal yang merujuk pada aspek penting penciptaan lain seperti visi seorang seniman dalam pencapaian estetik dan etika, yang diusung dalam berbagai pendekatan metodologi, konsep dan tujuan penciptaan masih harus didiskusikan lebih lanjut. Dalam strategi artistik seni lukis yang mengandalkan bentuk, warna, komposisi, dan tekstur, apakah cukup memiliki strategi dalam menjembatani visi seninya untuk memenuhi tanggung jawabnya bila menyertakan subject-matter pada  aspek alam dan lingkungan?

Sementara dalam perspektif penciptaan seni dan lingkungan yang dijadikan banyak seniman sebagai sumber penciptaan, hal terpenting yang menyertainya adalah aspek tanggung jawab yang berhubungan langsung dengan dilema persoalan lingkungan. Aspek tanggung jawab ini menjadi motif utama dalam penciptaan seni lingkungan mengalahkan aspek estetik maupun artistik lainnya yang ada pada penciptaan seni dalam bingkai modernisme.

Dalam penggunaan medium seni, Linda Weintraub dalam The Message of the Medium, Avant-Guardians: Ecology and Art at the Cultural Frontier-2006 yang dipublikasi oleh Greenmuseum.com mengemukakan: “Perpindahan pesan seni yang biasanya dianggap berasal dari medium fisik, estetika, dan kualitas metaforik, Seniman menambah kualitas keempat - dampak lingkungan dan sosial dari pemanfaatan media”. Misalnya, apa dampak lingkungan dari manipulasi media? Apa dampak lingkungan dari karya seni yang dibuat dari media yang digunakan? Pesan ekologis dari pandangan Weintraub ini, menyampaikan secara khusus antara hubungan karya seni dengan basis sumber daya alam sebagai subject-matternya. Dan dalam penciptaan seni lukis apakah harus menyertakan kulit harimau sebagai bagian material yang digunakan pada proses penciptaan karya?

Penciptaan seni lingkungan memiliki karakteristik yang spesifik dalam metodologi dan strategi penciptaan karena berhubungan dengan sikap artistik seniman dalam menciptakan perubahan nilai yang tengah diperjuangkan sebagai agenda perubahan. Cara pandang estetik seni lingkungan justru berlawanan dengan prinsip-prinsip seni modern.

Cara pandang yang berlawanan ini dapat dipahami melalui Suzi Gablik. Gablik adalah seorang filsuf, kritikus, kurator seni dan penulis yang telah menulis buku Has Modernism Failed?(2004). Gablik menyatakan: “Ketika saya pertama kali mulai menulis Has Modernism Failed? lebih dari dua puluh tahun yang lalu, apa yang saya ingin eksplorasi adalah relevansi nilai-nilai moral dan spiritual dalam sebuah masyarakat yang berorientasi pada produksi manik dan fiksasi dengan komoditas. Sejak itu, dunia seni saat ini tampaknya telah mendua menjadi dua paradigma estetika yang sama sekali berbeda, masing-masing berbeda tajam dalam pandangan mereka tentang makna dan tujuan seni.

Dalam contoh pertama, seniman yang terus mewartakan dan mendukung kemandirian seni yang menyimpang dari yang baik pada aspek sosial dan segala bentuk kesungguhan moral dengan keterpisahan sosial sebagai premis dasar pembuatan seni. Dalam contoh kedua adalah seniman yang ingin seni memiliki beberapa agenda yang layak di luar dirinya sendiri dan tujuan penebusan sosial.

Dalam kesempatan lain Gablik mengungkapkan dalam A New Front (Publikasi Online: Greenmuseum.com): “Dunia seni telah menjadi kompetitif dan eksploitatif, dan bahwa fokus di dunia seni hanyalah pencarian keuntungan. Tidak hanya ini, untuk membatasi ekspresi artistik, mereka mengabaikan perhatian penting seni, yaitu estetika dan etika. ‘Otonomi estetika adalah berakar dan mendalam’, sementara praktik seni menyiratkan gagasan keterpisahan otonomi moral dan sosial sebagai kondisi pembuatan seni”.

Menyimak pernyataan tajam Suzi Gablik di atas, bisa dipahami bagaimana seniman yang memfokuskan masalah lingkungan sebagai materi penciptaan karya-karyanya dalam bekerja. Seniman Lingkungan dalam proses penciptaannya menitikberatkan aspek kerjasama jaringan. Mereka bekerja bersama dengan orang-orang di sekitarnya untuk menggalang pemahaman lingkungan. Metode ini sebagai bagian dari strategi dalam mendidik lingkungannya dengan tujuan keluar dari masalah yang dihadapi. Dalam proses penciptaan seni lingkungan dikenal istilah Sustainable atau ide kerja berkelanjutan. Artinya karya yang dihasilkan adalah bukan hasil akhir, dan bentuk karya seninya tidak harus bertahan ratusan tahun yang memungkinkan untuk dijadikan komoditas jual beli barang antik. Seperti yang diungkapkan Gablik di atas, adalah penciptaan karya seni sebagai bagian dari penebusan dosa atas kerusakan alam yang telah dieksploitasi oleh sifat materialistik manusia.

Kembali kepada aspek lingkungan alam dan sosial yang menjadi sumber inspirasi penciptaan Tjokorda Bagus Wiratmaja atau seniman lainnya, termasuk saya. Sebaiknya dalam penciptaan karya seni menyadari adanya dua paradigma atau cara pandang estetika yang sedang berjalan bersamaan, dan keduanya saling berlawanan seperti yang digambarkan dengan baik oleh Suzi Gablik di atas. Ini berguna untuk menghindari gagasan penciptaan yang akan menjadi bercampur baur dalam proses dialektika pada muatan-muatan estetik dan etikanya. Supaya terjadi edukasi yang baik pada tataran visioner dari para pelaku seni beserta pendukungnya. Banyak seniman yang terinspirasi pada aspek kerusakan Lingkungan dan Alam dalam paradigma penciptaannya justru memberi kesan hanya mengeksploitasi objek alam tersebut. Seniman tidak memberi solusi pada objek yang diamati.

Firman Djamil
Alumni Pascasarjana Institut Seni Indonesia – ISI Yogyakarta.
Anggota AiNIN : Artist in Nature International Network (www.ainin.org)
(www.firmandjamil.blogspot.com)

Minggu, Desember 11, 2011

Masa Kuliah yang ‘Berlumur Dosa’

Kalau ada dosa yang membanggakan, maka yang hendak saya ceritakan barangkali termasuk dosa. Tapi saya lebih suka menyebutnya semacam ‘balas dendam’. Ini soal pelanggaran sebuah janji.
 
Saya kerap berjalan bertiga dengan Zul dan Ripe di masa kuliah. Kami diplonco bareng. Kentalnya hubungan kami sehitam saluran air yang pernah kamu temui. Lama-lama, saya merasa, hubungan kami tidak sekadar teman biasa. Jalinan gerombolan ini jadi perkawanan dan jadi persahabatan. Kami kerap nongkrong di kampus sampai magrib (atau malam). Kami pun melanjutkannya di luar kampus. Kalau tidak sedang menginap di rumah Ripe di Pa’baeng-baeng, kami menghabiskan waktu di kontrakan saya di Tamalanrea (yang berlanjut di rumah saya di BTP). Kalau ada kiriman orangtua, Ripe atau Zul yang mengantar saya mengambil di perwakilan bis.
 
Hubungan kami bahkan sampai jadi berubah bagai sedarah dan sekandung, saudara semakan dan seair. Kopi segelas kami tigai. Makanan sebungkus, bila musim kere tiba, kami sisakan untuk yang lain. 

Ke mana pun kami seperti angka 101. Saya dan Zul adalah dua pemuda ceking yang mengapit Ripe yang berbadan sentosa. Tapi siapa yang lebih subur antara saya dan Zul? Barangkali, saya lebih berat sekisar lima kiloan dari Zul. Tapi Zul lebih percaya diri bertelanjang dada, sekalipun di depan teman perempuan seangkatan. “Badan Zul seperti tripleks yang ditempeli dua butir nasi,” begitu ejek saya bila dia membuka baju. Ripe terbahak mendengar ejekan saya itu.
 
Saya menduga, Zul biasa buka baju untuk meniru Iwan Fals, tokoh idola kami berdua. Saya takjub pada lirik-lirik lagunya, Zul lebih kagum pada gaya Iwan (semisal Iwan Fals bertelanjang dada menyanyi di panggung). Zul memang sering bersuara fals bila menyanyikan lagu-lagu Si Oemar Bakrie itu.
 
Anggapan saya tentang kampus semata-mata tempat bergaul. Ruang kuliah seperti embel-embel, boleh ada boleh juga tidak. Kami bukan anak ‘bureng’ (buru rengking), golongan yang betah duduk lama di ruang kuliah dan mengejar nilai tinggi. Untuk menegaskan itu, Ripe dan Zul membentuk kelompok bernama Dislexia, nama yang merujuk satu penyakit susah berkonsentrasi belajar. Saya, dengan sendirinya, merasa jadi salah seorang umat aliran ini karena kerapnya berkumpul dengan dua sahabat ini.
 
Dalam sebuah obrolan saya dengan Zul di Baruga, kami sempat membincangkan rasa frustasi tentang perkuliahan. Tugas menumpuk, keharusan kuliah pagi (beban berat bagi para tukang begadang), dan larangan bersandal jepit masuk kelas adalah tiga dari sekian hal yang membuat kami memicu kedongkolan kami pada dunia kuliah.

Saya dan Zul lalu berjanji untuk melewatkan saja semua mata kuliah yang kami program di KRS semester ganjil kami.

Zul belakangan mengkhianati janji sejoli kami. Saya menganggap dia ‘berkhianat’. Dia masih saja rajin di beberapa kuliah. Salah satunya Studi Kawasan Pasifik (nama mata kuliah ini mungkin sudah berubah).

Zul lalu mendapat giliran naik ke depan kelas untuk presentasi profil negara di kawasan Pasifik. Ia kebagian Mexico. Bahan sudah lengkap. Tulisan spidol profil, trivia, dan segala tetek bengek Mexico di lembaran flipchart sudah siap. Kecuali satu: nama presiden Mexico!
 
Di himpunan, bergilir orang ia tanyai, tapi semua menggeleng tidak tahu. Ia hanya menggaruk-garuk kepala. Bingung mau cari tahu di mana. Waktu sudah mepet. Saya yang mencuri dengar pertanyaan Zul ke banyak kawan, diam-diam menyiapkan jawaban.

“Huan Klementero,” bisik saya ke Zul.

“Betulan?” tanya Zul, setengah percaya.
 
“Iya! Tapi, tidak usah ditulis kalau tidak percaya.”
 
Zul tampak melunak. Mungkin karena satu pertanyaan yang tersisa sudah dapat jawaban. Waktu makin sempit.
 
“Bagaimana ejaannya?” tanya Zul, yang masih setengah percaya.
 
Waktu tinggal satu-dua menit.
 
“J-u-a-n C-l-e-m-e-n-t-e-r-o,” eja saya. Suara saya lirih, tanda saya masih setengah tega.
 
Zul menuliskan huruf-huruf yang saya eja itu ke flipchart.
 
Ia bergegas riang. Profil Mexico lengkap. Tampil sekarang pun ia pasti siap.
 
Selang satu setengah jam kemudian, Zul datang tersenyum puas. Rupanya, kata Zul, ia membaca tanda kalau ia bakal dapat nilai memuaskan. Kok bisa?
 
“Iya, dosennya tersenyum puas,” timpal Zul.
 
Dugaan Zul benar. Dia mendapat nilai A di akhir semester. Saya menduga, itu sebiji nilai tertinggi yang diperoleh Zul di semester itu.
 
Sekisar setahun kemudian, Zul datang pada saya dan menyatakan sumpah. Seumur-umur, begitu Zul mencetus, dia tidak akan percaya dengan apa pun yang saya katakan. Baik sekarang maupun nanti. “Titik!” Zul menekankan.
 
Apa pasal? Rupanya ia baru saja tahu nama presiden yang saya bisikkan di telinganya hanya nama rekaan. Saya tertawa puas. “Tapi kan kamu dapat A,” timpal saya.
 
Bertahun-tahun setelah kejadian ini, saya buka laman di internet, presiden Mexico kala itu bernama Ernesto Zedillo Ponce de León. Bandingkan kecocokan nama yang saya bisikkan ke telinga Zul. Huruf ‘J’ pun tak ada di situ. Tapi, bukan Zul yang saya kasihani, melainkan dosen dosen pengasuh mata kuliah itu.
 
Juan Clementero itu nama rekaan refleks saya. Saya menyebut nama itu lantaran, sepengetahuan saya, Juan adalah nama awam pria Latin, yang saya comot dari cerita Zorro yang saya baca masa SD dulu. Sedang Clementero sendiri mengadopsi bunyi pelafalan merek permen “Mr. Sarmento”. Yang membekas di benak saya adalah logo permen itu, kalau saya tidak keliru, kelinci bertopi Sombrero, topi khas Mexico. Biar meyakinkan, saya memplesetkan ‘Sombrero’ jadi ‘Clementero’ untuk bunyi yang, entah atas pertimbangan apa, saya pikir cukup meyakinkan bagi telinga Zul.

Benar-benar dosa sekaligus pembalasan yang membanggakan.[]

Jumat, Desember 02, 2011

Narasi Islam di Asia Tenggara

Buku ini adalah hasil penyigian Thomas Gibson di Desa Ara, Bulukumba, Sulawesi Selatan—sebuah desa Makassar di ujung selatan jazirah Sulawesi. Penelitian ini membentangkan hasil studi apik tentang komunitas-komunitas kompleks di Asia Tenggara Kepulauan yang memeluk Islam sejak kurun waktu 1300-1600. Di dalam buku ini, Gibson memaparkan tentang gagasan kosmologikal kerajaan-kerajaan, kosmopolitan mistisme dan hukum Islam, serta gagasan global pada negara birokratik modern.


Buku ini merupakan buku kedua profesor antropologi University of Rochester ini setelah menulis Kekuasaan Raja, Syeikh, dan Ambtenaar: Pengetahuan Simbolik dan Kekuasaan Tradisional Makassar 1300-2000 (Ininnawa, 2009). Hasil penelitian ini mendapat anugerah Clifford Geertz Prize tahun 2008 untuk kategori antropologi agama.


“Sebuah capaian langka dalam hal menyingkap cara kerja pengetahuan simbolik dan teknik menunjukkan kekuatan rumusan teori klasik penyokong disiplin antropologi dengan gaya yang jarang terlihat akhir-akhir ini dalam tulisan etnografi ...”
Elizabeth Fuller Collins (Ohio University), Anthropology News


Sebuah kontribusi besar terhadap pemahaman kita tentang Islam di Asia Tenggara ... kepakaran Gibson dalam membaca dan menulis ulang sejarah lisan, kitab dunia Islam, kisah epik, silsilah kerajaan dan dokumen pemerintahan mempertontonkan bentuk terbaik dari kemampuan seorang ilmuwan, sebagaimana ia tunjukkan sebagai ahli antropologi sekaligus sejarawan. 
John T Sidel (London School of Economics), Journal of Islamic Studies


Sebuah kajian yang rumit dengan ambisi besar. Tom Gibson telah melanjutkan petualangannya dalam merajut ingatan dan tradisi Sulawesi untuk menggeledah beragam cara Islam ditafsirkan, dianut, dan didayagunakan dalam konteks tertentu di Asia Tenggara ... sebuah capaian besar.” 
Michael Laffan (Princeton University), Journal of the Economic and Social History of the Orient


“Proyek Gibson—juga relevan bagi sejarawan dan ahli antropologi yang mengkaji masyarakat lokal di Indonesia—adalah mengangkat kondisi lokal di Ara dalam kaitannya dengan perkembangan regional, nasional, dan global ... Penelitiannya yang membentang pada cakupan masa yang luas membuka kemungkinan-kemungkian baru, khususnya pada bidang ilmu yang masih jarang ditulis dan melakukan lintas-batas masa yang sangat disenangi para sejarawan: masa modern versus pra modern, masa kolonial, dan pasca kolonial.”
William Cummings (University of South Florida), Indonesia

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP