Kamis, November 24, 2011

Zawawi Imran di Kampung Buku


foto: Pepenk Sofyan
Zawawi Imran pernah mencium artis selama tiga hari sambil sembahyang. Luar biasanya karena wudhunya tidak batal sama sekali. Bagaimana bisa?


Ini berawal dari satu sesi istirahat di sebuah seminar, ketika penyair Zawawi Imran kelimpungan mencari sajadah. Ia mau salat. Zawawi meminta bantuan panitia mencarikan tikar sembahyang. Tapi panitia belum juga menemukan. Zawawi Imran memutuskan memakai koran saja sebagai tikar sembahyang. Tak ada sajadah, koran pun jadi. Ketika Zawawi membereskan koran itu menjelang pulang, ia melihat, rupanya, selama tiga hari Zawawi bersujud tepat di wajah seorang perempuan bintang iklan sabun.


Lontaran kelakar Zawawi Imran tadi ia sampaikan dalam pengajian sastra di perpustakaan Kampung Buku, 23 November lalu. Cepat saja tawa hadirin menghambur. Acara pengajian sastra ini berniat sederhana saja: untuk membajak Zawawi yang mumpung sedang di Makassar untuk satu keperluan. Gagasan itu bermula dari Una, kawan jurnalis di sebuah media lokal, lewat dunia micro-blogging, Twitter. Gayung pun bersambut. Malam berikutnya, hadir beberapa penggiat sastra seperti Aan Mansyur, Luna Vidya, Loysye, Mappinawang bersama rombongan, dan beberapa jurnalis yang bertugas di Makassar.


Zawawi malam itu duduk di kursi. Sedang hadirin duduk bersila di serambi seraya masing-masing bersandar di jajaran rak perpustakaan Kampung Buku. Zawawi memang tidak bisa melipat kaki. Ia datang menggunakan tongkat penyanggah.


Seperti yang diperkirakan, Zawawi akan banyak mengutip kalimat mutiara dan kisah-kisah khasanah masyarakat Bugis dan Makassar. Banyak orang mengenal Zawawi penyair yang sangat 'Bugis' dan amat 'Makassar', kendati pria itu besar dan lahir di Sumenep, satu kabupaten di Pulau Madura. Salah satu buku kumpulan sajak Zawawi berjudul Berlayar di Pamor Badik.


Bagi Zawawi Imran, filsafat Bugis adalah filsafat pengalaman. Zawawi menceritakan tentang kisah La Pa'belle, anak Arung Matowa Wajo yang berkasus memerkosa seorang perawan, peristiwa yang terjadi pada satu hari pada tahun 1500-an. La Pa'belle melarikan diri ke baruga. Sesampai di sana, si anak raja mengakui perbuatannya. Masa itu umum diketahui bahwa siapa saja yang mendatangi kediaman raja menyatakan bersalah usai melakukan kejahatan, maka ia akan diampuni. Namun Aruang Matowa menegaskan, "Ia datang ke kediaman orangtuanya."
Hukuman mati tetap dipersiapkan. Karena, "Ade' temakkeana' temakkeappo (hukum tak mengenal anak tak mengenal cucu) !"


Cerita tentang Arung Matowa Wajo ini ia tutup dengan membacakan selarik puisi tentang raja Wajo nan adil itu.


Bukan sekali Zawawi mengutip pepatah Bugis atau kata bijak nenek moyang Makassar dalam pengajian sastra malam itu. Zawawi berkopiah dan berbaju lengan panjang abu-abu juga menceritakan bagaimana ia memandang Jusuf Kalla sebagai representasi kerendahhatian seorang Bugis. Baginya, JK setelah menjadi wakil presiden malah tidak sungkan memanggul tanggungjawab sosial seperti jadi ketua PMI atau tim kampanye Pulau Komodo sebagai tujuh keajaiban dunia. "Banyak orang yang kalau sudah memimpin yang lebih tinggi tidak akan mengambil jabatan yang lebih rendah," begitu alasan Zawawi.


Ada banyak pepatah Bugis dan Makassar yang meluncur dari mulut pria kelahiran 1945 silam ini.  Mengapa Bugis dan Makassar? Karena, kata Zawawi, kita diajarkan untuk mengambil yang baik-baik dari segala arah.


Namun belakangan dalam sesi dialog, Zawawi mengatakan, kebudayaan Bugis dan Makassar merupakan dua kebudayaan yang akrab dengan Sumenep, kampung halamannya. Zawawi menerangkan bahwa ada 120 pulau di Sumenep. Masyarakat keturunan Bugis dan Makassar menghuni sekisar 80-an pulau tersebut. "Kalau mengadakan pernikahan (di sana), orang Madura banyak yang ikut dengan adat Bugis dan Makassar," terang Zawawi.


Bahkan, bagi orang Madura, kedua masyarakat penghuni jazirah selatan Sulawesi itu disebut 'Orang Temur'. Sebutan itu, kata Zawawi mengandung dua pengertian. Pertama, orang yang berasal dari arah timur (Sulawesi) dan yang kedua, mereka berasal dari arah matahari terbit--arah kebaikan berawal.[]

Minggu, November 20, 2011

Kelahiran Kembali

http://ardiantodamas.files.wordpress.com
Saya penasaran sejak lama dengan istilah maulu', lema bahasa Bugis yang berarti 'uzur'. Belakangan saya ketahui, setelah bertanya sana-sini, bahwa istilah itu dalam bahasa Arab berarti 'lahir kembali' (maulud). Tapi bagaimana awalnya itu muncul?

Saya menyimak dari berbagai sumber lisan maupun tulisan, yang menyebutkan bahwa kehidupan manusia laksana mendaki gunung. Perjalanan menuju puncak dan setiba di puncak harus menurun lagi. 

Soal ini saya semakin kuat ketika salah seorang kawan saya, Weda, menceritakan bagaimana ia kini menjaga ayahnya yang maulu', setelah kena stroke. Ayahnya, menurut Weda, persis anak kecil. Sesekali menangis merasa kesepian, juga harus mendapat bantuan bila buang air.

Perjalanan naik gunung itu, bagi saya, sebuah amsal yang baik untuk menggambarkan kemampuan tubuh manusia. Karena kala bayi, tubuh kita masih berkerut belum sempurna. Bahkan daya tahan tubuh belum terbentuk sama sekali. Pada usia dua puluhan sedang setengah jalan menuju puncak. Tiba pada usia sekisar empat puluh tahun, tubuh kita kemudian kian paripurna. Lalu kian tahun setelah empat puluh, tubuh makin doyong dan lekas sakit lantaran daya tahan tubuh kian turun. Bahkan di masa uzur, seorang tua sangat membutuhkan bantuan dari orang-orang yang menjagainya, selayak kala masih bayi.

Saya lalu ingat wejangan dari seorang bijak bestari di kampung bahwa perlakuan yang kita alami di kala uzur itu (terutama terhadap anak) tak lain kadar balasan dari apa yang kita berikan pada masa kecil mereka.

Jumat, November 18, 2011

Ketika Gagasan Berebut Tempat

Sejumlah komunitas kreatif di Makassar melukis bersama di Taman Segitiga KPJ, Jalan Sultan Hasanuddin, Makassar, 11 November lalu. Acara berlangsung mulai pukul 13.30 Wita hingga 17.30 Wita. Mereka menanggapi sesaknya ruang publik karena baliho memenuhi kota yang mereka tinggali.


Baliho menjadi hal lazim dalam kehidupan warga Makassar. Baik kalangan pemerintah Sulawesi Selatan maupun pengusaha menggunakan media ini sebagai bentuk kampanye. Sayangnya, bentangan vinyl di begitu banyak titik, nyatanya, mubazir. Bahkan perkembangan itu ramai tapi bisu—ramai dalam jumlah, namun bisu dalam dampak. Bisu karena pesan yang ditonjolkan tidak lengkap dan membuat audiens tidak percaya bahwa mereka akan merasakan manfaat yang dijanjikan dan tidak membuat mereka terinspirasi untuk bertindak. Pesan apa yang bisa kita tangkap dari baliho Sulsel Go Green yang berisi foto pejabat dengan seragam dinasnya? (Abdullah Sanusi, Baliho Saja Tidak Cukup)


Oleh pemerhati tatakota seperti Marco Kusumawijaya (2004), fungsi urban management yang rasional layak dikedepankan dalam urban good government, ketimbang kelihaian berpolitik. Pernyataan Marco merujuk pada pernyataan Soekarno kala melantik Ali Sadikin 28 April 1966 silam. Soekarno mengatakan bahwa seorang walikota (baca: pejabat) jangan cuma mengerti bestuurvoering (pelaksanaan pemerintahan), melainkan orang yang tahu “membuat kotanya itu bersih daripada sampah”.


Komunitas-komunitas kreatif Makassar yang turut dalam kegiatan ini antara lain UKM Seni UMI, Kedai Buku Jenny, Hijau Himahi Unhas, Rumah Ide Makassar, RenWarin Management, Abba Art Studio, Kasumba, sejumlah mahasiswa Seni Rupa UNM, Indonesia Sketcher Makassar, dan Tanahindie. Beberapa seniman tampak hadir seperti Rimba, Zaenal Beta, dan Firman Djamil.


Gerakan ini dalam bentuk mengambil beberapa baliho yang sudah kadaluarsa di beberapa titik di Makassar. Baliho yang terkumpul selanjutnya menjadi kanvas melukis bersama di Taman Segitiga KPJ.


Namun pengambilan baliho itu tidak akan dilakukan semena-mena. Komunitas yang ikut dalam gerakan ini tetap mengedepankan negosiasi dengan pihak yang terkait. Tujuannya, agar dialog yang terbangun menyebarkan penyadaran kepada pihak lain terkait pentingnya partisipasi. Pendeknya, kalangan pemberi izin pun berpartisipasi tatkala mereka memberi izin dan menyerahkan baliho yang mereka tanggungjawabi.


Upaya ini memiliki maksud membangun negosiasi antara warga biasa dan sekelompok orang yang memiliki wewenang pada titik-titik pemasangan baliho. Ini penting lantaran ruang outdoor selama ini terbengkalai, tanpa pengelolaan yang baik, sehingga tampak karut-marut dan terbengkalai. Sementara bagi warga, cara ini penting agar diberi ruang yang lebih luas membangun ruang gerak kebudayaan dan kehidupan sehari-hari. Bagaimana pun aparat pemerintah juga berasal dari kalangan warga yang mengharapkan terciptanya ruang serupa.


Kegiatan ini tidak berhenti di situ saja. Keesokan malamnya, beberapa perwakilan peserta melukis bersama ikut dalam evaluasi kegiatan yang dibingkai dalam bentuk happening art (seni peristiwa). Perupa Firman Djamil menjadi penanggap obrolan santai evaluasi tersebut. Evaluasi memilih Firman Djamil karena perupa ini salah seorang seniman yang menggeluti happening art.


Dalam obrolan awal, Ridho, relawan Kedai Buku Jenny, mengakui kalau memang Makassar sudah benar-benar tercemar. “Satu-satunya hiburan bagi saya kalau sedang jalan di kota adalah ibu hamil,” kata Ridho.


Peserta lain, Bram, yang sehari-hari sebagai pengacara, menyatakan hal senada. Namun ia menekankan bahwa kegiatan melukis bersama dari ekspresi psikologis mungkin sudah tercapai. Namun kegiatan ini masih perlu menggali lebih dalam untuk menjawab pertanyaan, terutama, apakah warga juga terganggu baliho di banyak tempat di Makassar?


Firman mengatakan, baliho-baliho itu memang baru sebatas virus. Belum menjadi sampah. Baru mengganggu! Dan di sinilah fungsi happening art sebagai cara berpikir outdoor (luar ruangan). Cara outdoor berarti melawan cara indoor (dalam ruangan), sistem yang dipakai oleh kalangan penguasa karena sistem kerja penguasa serba terkoordinasi atau berbentuk rezim.


“Dengan begitu, seni outdoor juga berebutan tempat untuk dipahami. Itu adalah ruang konfrontasi, tempat gagasan saling berkompetisi mempengaruhi pikiran. Ruang outdoor adalah ruang yang ditawarkan ke banyak orang. Di sana kita mencari solusi dalam kerangka yang berbeda, yakni informal. Ia membangun komunikasi. Selain itu tidak monoculture,” ujar Firman. Monoculture, secara singkat, bisa berarti peruntukkan sesuatu untuk satu tujuan saja.


Firman, yang baru saja menyelesaikan magister Penciptaan dan Kajian Seni ISI Yogyakarta, mencontohkan yang dilakukan mahasiswa HI Unhas datang terlambat ke kegiatan itu karena terjebak macet. “Mereka menggunting baliho sebagai respons terhadap keadaan waktu itu juga.”


Menurut Ridho, salah seorang peserta yang berangkat bersama mahasiswa HI, potongan-potongan baliho didaur ulang karena datang terlambat. Mereka mendapati spanduk sudah rampung dilukis. Mereka mengambil sisa baliho lalu mengguntingnya berbentuk manusia dan bermacam bentuk lain. Bentuk-bentuk itu kemudian mereka lukisi.


Hanya saja, Firman menyayangkan, beberapa orang yang di taman hanya menonton. Ada juga yang tidak melakukan apa-apa lantaran karena tidak mendapat baliho. Ada juga yang datang hanya untuk melukis.


Sementara Anchu, yang aktif di Tanahindie melihat hal lain. Justru yang menarik bagi Anchu adalah jejak-jejak kaki di sekitaran acara melukis bersama.


Jejak-jejak kaki itu terbuat dari guntingan baliho, yang dibuat oleh para anggota UKM Seni Universitas Muslim Indonesia. Jejak itu disebar dari pintu Taman Segitiga sampai di lokasi melukis bersama. Ukuran jejak itu berbeda karena UKM Seni UMI mengambilnya dari para partisipan. Setiap lembar satu pengunjung.


Pertanyaan autokritik kegiatan ini muncul dari Dhany, yang bergiat di UKM Seni Universitas Muslim Indonesia. Dalam acara ngopi di Kampung Buku itu, Dhany mempertanyakan tidakkah juga kita membuat cemar ketika mengambil baliho atau spanduk itu?


“Tidak sama sekali. Kita mengambil baliho karena membuatnya menjadi sesuatu yang lain,” pungkas Firman.[]

Catatan: untuk dokumentasi kegiatan, sila cek di: http://quitequote.tumblr.com/

Rabu, November 16, 2011

Lelaki Berbatik di Pesta Komunitas

“Bahagia itu sederhana! Tidak butuh uang! Yang penting kita berkumpul dan bersenang-senang, itu sudah cukup!” Begitu seruan MC Iqko menyambut rampungnya penampilan penari RenWarin Management, dalam ajang “November Ceria”, di Kampung Buku. Meski Iqko melontarkan seruan ini tatkala acara masih separuh jalan, namun pernyataan Iqko seperti merangkum seluruh suasana yang merebak malam itu.

Nama memang sebuah doa. “November Ceria” bisa menjadi bukti. Soalnya, sempat merebak kekhawatiran pelaksana datangnya hujan. Soalnya November itu bulan hujan dalam negara berkalender iklim lengas (muson) seperti Indonesia. Namun, sebaliknya, bulan dan bintang tampak jelas sepanjang malam. Tak ada mendung yang menggantung. Panitia pun memutuskan membawa acara ke badan jalan yang melintas depan perpustakaan umum yang terletak di Jalan Abdullah Daeng Sirua 192E Makassar. November Ceria awalnya digelar di beranda Kampung Buku saja.

Acara ini mengandalkan kerja kolaborasi yang tercipta karena jejaring komunitas. Perihal dan pernik teknis gawean bukan masalah. Semuanya serba dibagi. Acara mengambil tempat di Kampung Buku, perpustakaan yang sekaligus markas Tanahindie. Rumah Ide Makassar (RIM) bertindak sebagai tim dokumentator; merekam dan memfilmkan acara. Jaringan sound system dan mixer ditangani oleh Hipmacz. Mereka datang lebih awal untuk itu. Sejumlah akun twitter seperti @paccarita—akun twitter resmi komunitas blogger Makassar Anging Mammiri, @mkstdkksr—akun gerakan kampanye damai “Makassar Tidak Kasar”, dan @supirpete2—akun informatif tentang Kota Daeng, menjadi barisan informan acara ini.

Namun tidak semua hal berjalan oke. Tim dokumentator RIM rupanya membawa lampu sorot untuk mendukung pengambilan gambar selama acara. Sayang daya listrik Kampung Buku lemah. Sedang lampu tepat di belokan jalan penghubung Kompleks Panakkukang Indah dan Jalan Abdullah Daeng Sirua pun sudah lama tidak menyala. Beberapa saat masalah ini tertangani. Warung Kopi 88 meminjamkan mesin genset. Lampu sorot diangkat dan diikat ke kap mobil seorang penonton. Jalan itu berubah panggung, minus goyang “kucek-keringkan” ala acara musik stasiun televisi.

***

Belokan depan Kantor Lurah Pandang ditutup layar lebar. Di sanalah dipancar dokumen bergambar statis dan bergerak semua kegiatan komunitas yang hadir. Layar itu juga yang menjadi latar seluruh penampilan kelompok dan komunitas untuk unjuk kebolehan. Hipmacz, komunitas hip-hop Makassar muncul memberi pemanasan hadirin. Mario dan Bizkit mengibarkan bendera Florap membuka acara dengan satu nomor hardcore, “Jeritan Rakyat”. Hentak musik dan lirik-lirik kemarahan melampias. Mario dan Bizkit menggoyang lingkaran penonton.

Penampilan Hipmacz menjadi penampilan khusus bagi kebanyakan komunitas yang hadir. Mungkin selama ini mereka hanya menyaksikan para penyanyi rap di televisi. Kini musik ini hadir di depan mata mereka. Cuma semeter-dua meter! Acara berlanjut menampilkan setiap komunitas memperkenalkan diri satu-satu. KPAJ (Komunitas Pencinta Anak Jalanan) datang memaparkan kalau mereka menerima sukarelawan. Direktur AcSI (Active Society Institute), Nardi membawa film dokumenter berdurasi delapan menit tentang pendampingan pedagang pasar lokal.

Usai dua komunitas tadi, dua penampil dari Hipmacz, The Paparipi dan Eros ft. Mizwa tampil. The Paparipi yang diusung Nyong, Arjen, Starken, dan Iwan ini kembali memanaskan suasana. Mereka menyanyikan “Jalan yang Ada”. Sedang Eroz dan Mizwar melantunkan “I Love You, Mama”.

Ipul, ketua Anging Mammiri menyampaikan banyak informasi tentang kegiatan blogger Makassar. Dari komunitas ini, kata Ipul, informasi yang beredar selama ini memerlukan sudut pandang berbeda dibanding media mainstream.

Suasana riuh kembali bergema begitu perkenalan Anging Mammiri selesai. Grup tari kontemporer dari RenWarin Management menggoyang penonton. Setelah tarian itu, giliran perwakilan RIM, Fadila Ayu Hapsari, memaparkan program kerja yang selama ini digeluti komunitas yang dirintis Arfan Sabran ini. Tak ketinggalan kuis berhadiah buku dan kupon dari Makassar Tidak Kasar. Selesai presentasi komunitas bagian kedua tadi, Andi Armadi Dirham membawa komunitas flashmob-nya. Tidak kurang dua puluh orang menari di jalan. Penonton lagi-lagi bergoyang meski malam sudah dekat larut.

Usai flashmob, tampil GaSS (Galeri Seni STIEM) Bongaya membawakan dua lagu akustik. Kali ini, Edy dan Tami mengiring suasana menjadi syahdu. Tapi suasana itu sebentar saja. Hipmacz tampil lagi.

Mario masuk ke tengah kerumunan kembali. Ini kali Mario dan Bizkit ber-beatbox, bersahutan menceritakan riwayat komunitas hip-hop ini. Menurut Mario, sebagian besar awak Hipmacz berdarah Maluku. Pernyataan damai pun mereka suarakan. “Kami selama ini mendapat respek, tapi kami tahu kalau itu respek basa-basi. Barulah di sini kami benar-benar merasa mendapat respek yang tulus!” ujar Mario.

Pernyataan Mario bersambut tepukan gemuruh penonton.

Mario memperkenalkan salah satu grup dalam Hipmacz, The Kajahatang. Grup berisi anak-anak SMA itu sekaligus menutup acara November Ceria. Namun Hipmacz tidak pulang usai acara. Bersama kru Tanahindie, mereka masih tinggal berkumpul ngopi seraya menonton @linimas(s)a yang diputar Gerobak Bioskop “Dewi Bulan”. @linimas(s)a merupakan film dokumenter perihal kekuatan media jejaring sosial.

***

Iqko, sang master of ceremony, seperti representasi dari acara ini. Iqko aktif di banyak komunitas, seperti Anging Mammiri dan Makassar Tidak Kasar. Malam itu Iqko berbaju batik membawakan acara. Iqko merasa risih sendiri. Iqko sempat berbisik kepada saya bahwa hanya dia yang salah kostum di acara ini. “Seandainya saya tahu acaranya begini, saya pulang ganti baju dulu,” katanya, tertawa. 

Iqko tidak sengaja membalut badan besarnya dengan kemeja batik dan celana kain. Iqko baru pulang kantor. Iqko adalah pegawai negeri sipil yang berkantor setahun terakhir di sebuah balai pelatihan administrasi. Namun berdasarkan pengamatan, Iqko begitu menikmati acara malam itu. Sesekali ia mengelap keringat yang mengucur di dahinya. Iqko tidak mampu menyembunyikan perasaannya. Ia senang meski harus memandu “November Ceria” selama 150 menit, tanpa istirahat sepulang kantor.

Iqko punya alasan untuk itu. Komunitas-komunitas di Makassar selama setahun terakhir berkembang cepat. Menurut Iqko, perkembangan teknologi dan jejaring sosial seperti Twitter dan BBM (blackberry messenger) mendukung semua itu. Tidak heran, kata Iqko, kalau semua orang dalam “November Ceria” setara.

“Mereka (penonton) tampak tidak keberatan dengan beberapa hal teknis seperti sound yang menggaung feedback dan hal lain. Itu juga tampak pada raut (wajah) dan cara mereka merespons. Mereka tetap saja riuh. Apalagi ruang untuk komunitas memang sangat kurang,” terang Iqko.

Oleh kawan dan sahabatnya, Iqko terkenal orang yang lekas tidur. Tapi malam itu, sesampai di rumahnya, Iqko tidak bisa tidur sampai pukul tiga dini hari. Iqko menumpahkan kekesalannya ke akun Twitter dengan me-mention seorang kawan, @lelakibugis: “Bertanggungjawabko! Saya tidak bisa tidur. Teringat terus pesta tadi!”[]

Catatan: liputan lengkapnya dapat Anda simak di http://tanahindie.net

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP