Minggu, Maret 25, 2018

Jawaban yang Datang Delapan Tahun Kemudian

LANTARAN ikut sibuk mengurus hal lain, saya tidak mendengar langsung bagaimana jawaban Kees Buijs atas pertanyaan soal bagaimana ia memisahkan antara pekerjaannya sebagai pendeta dan ketertarikannya terhadap masyarakat Mamasa sebagai subjek penelitiannya, yang tertuang dalam buku Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit: Struktur dan Transformasi Agama Orang Toraja di Mamasa, Sulawesi Barat (Ininnawa - KITLV Jakarta, 2009) yang diluncurkan dan dibincangkan pada acara Satu Dekade Komunitas Ininnawa pada April 2010 .
Kees Buijs melakukan pendampingan gereja-gereja di daerah Mamasa pada rentang akhir 1970-an hingga awal 1980-an, kawasan yang sedekade lebih lalu menjadi kabupaten sendiri di Sulawesi Barat. Dalam pengantarnya di Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit, Buijs menulis, “Yang saya lakukan saat itu adalah mengumpulkan informasi dengan rekaman dan catatan-catatan.” Atas dorongan dosen Antropologi Universitas Utrecht, H. Van Dijk yang berkunjung ke sana pada 1990 (dengan membawa mahasiswa yang tertarik mengadakan penelitian di Mamasa), ia kemudian mengikuti beberapa pelatihan di Universitas Leiden, yang membuatnya terkesan pada kuliah Reimar Schefold tentang antropologi simbolis.
Sejak berkenalan dengan Kees Buijs sejak 2009, saya lalu membaca penjelasan tentang Mamasa, daerah belum pernah saya datangi itu, ketika catatan ini saya tulis. Karya-karya doktor antropologi ini menyediakan bagi kita pengetahuan dan keterangan awal bagaimana masyarakat Mamasa menjalani agamanya, serta memberi pemahaman soal daerah yang tidak dikenal banyak orang, yang bisa melahirkan stereotipe tentang masyarakat dan wilayah “terpencil” tertentu, seperti masyarakat Toraja, yang pernah diceritakan Kathleen Adams dalam bukunya Arts as a Politic: Re-crafting Identities, Tourism, and Power in Tana Toraja, Indonesia (University of Hawaii Press, 2006), “Orang-orang dekat tuan rumah saya menyarankan, saya harus tinggal di Jawa atau ke Bali. Toraja dulu dikenal tempat ilmu hitam dan tradisi pengayauan [penggal kepala] dipraktikkan,” tulis Kathleen (hl. 2). Buijs juga ceritakan detail soal ritual penggal kepala ini dalam bukunya.

DALAM buku pertama, Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit, Kees Buijs menjelaskan secara umum tentang dua berkat yang selalu diharapkan oleh penganut aluk to yolo, harfiahnya agama lama atau agama tradisional yang (disebut-sebut sudah ada sebelum pengaruh Hindu-Buddha) dipraktikkan komunal maupun secara personal oleh masyarakat setempat. Dua kuasa berkat itu berasal dari langit dan belantara, konsep berpasangan dalam kosmologi orang Toraja Mamasa yang dibutuhkan untuk kehidupan.
Dengan mengutip Stöhr (1979), Buijs menyebut konsep ini merupakan jejak kebudayaan tua Indonesia, yaitu polarisasi dan cara berpikir khas Austronesia, seperti perbedaan antara dunia atas dan dunia bawah, laki-laki dan perempuan, kiri dan kanan, hulu dan muara sungai. Kendati berbeda sifat, keduanya memiliki kesepadanan sekaligus sifat yang bertentangan (hl. 52).
Langit dalam kosmologi orang Toraja Mamasa merupakan asal dari dewa luluhur yang mengutus keturunannya, para bangsawan, untuk mendiami bumi. Kelak, bila tiba saatnya meninggal, mereka harus kembali ke langit dan membali dewata (menjadi dewa-dewa). Namun selama menjalani hidup di bumi, para ‘anak-anak’ dewa ini memerlukan penunjang hidup seperti makanan (dalam hal ini, semisal, padi) yang hanya tumbuh bila langit dan belantara memberi berkat. Kerjasama antara kuasa ‘atas’ (langit) dan ‘bawah’ (bumi) menghasilkan kesuburan di bumi.

USAI penerbitan buku pertamanya, Kees Buijs masih bolak-balik ke Mamasa. Bila ia berencana ke Indonesia, mungkin selalu ke Mamasa, lelaki berkebangsaan Belanda ini akan mengabari saya lewat surat elektronik, SMS, atau belakangan lewat Whatssap. Kami janjian bersua, satu dua kali di hotel tempatnya menginap di Makassar atau mampir sejenak di tempat saya di Kampung Buku demi satu dua keperluan, terutama terkait bukunya—juga membaca sejenak buku Ibu Kathleen Adams.
Pada 2016, kami lalu intens berkomunikasi lantaran rencana penerbitan buku keduanya yang kemudian diberi judul Agama Pribadi dan Magi di Mamasa, Sulawesi Barat: Mencari Kuasa Berkat dari Dunia Dewa-dewa (Ininnawa, Juli 2017). Kalau dalam buku pertama Buijs jelaskan agama orang Toraja Mamasa lebih umum, dalam buku kedua ini ia uraikan bagian-bagian agama dan kebudayaan tradisional orang Toraja yang makin ditinggalkan dan dilupakan. Kees mengarahkan penjelasannya pada penghayatan agama secara pribadi yang berpusat di dapur setiap rumah, terutama di dalam rumah tradisional.
Bahkan, yang tak kalah menarik, di dalam Agama Pribadi dan Magi, Kees menelisik dan mengurai bagaimana berkat dewa-dewa demi kehidupan juga diperoleh dari rangkaian kata magis dan batu istimewa nan bertuah—yang diperoleh dengan berbagai cara dan di waktu-waktu khusus, yang dipercaya ketika bumi dan langit sedang ‘bersatu’.
Hal yang menarik pula bahwa dalam buku ini Buijs kelahiran 1944 ini merinci bagaimana perubahan agama lama di Mamasa lantaran dua momentum, yakni masuknya Kristen di Mamasa tatkala Belanda memerintah daerah tersebut pada 1907 dan pada 2002 ketika Mamasa menjadi kabupaten sendiri, situasi yang memungkinkan masyarakat Muslim bertumbuh cepat (hl. 23).
Kuasa berkat dari langit dan belantara pada pertumbuhan padi, sebagai makanan utama ‘anak-anak’ dewata, berubah tatkala cara sebar benih langsung ke sawah yang dilakukan masyarakat Mamasa hingga tahun 1970 berganti ketika padi yang cepat tumbuh masuk ke daerah itu, jenis bibit yang membutuhkan persemaian (hl. 106). Bibit yang tersedia pada masa Revolusi Hijau (green revolution) itu memungkinkan panen tidak serentak lagi, yang membawa pengaruh pada toso’bok [pendeta padi] (hl. 107).

TIDAK cukup setahun, ketika masih proses persiapan cetak Agama Pribadi dan Magi, Kees Buijs mengirim lagi naskah lain. Kali ini berurut, yakni versi Indonesia dan Inggris naskah Tradisi Purba Rumah Toraja Mamasa: Banua sebagai Pusat Kuasa Berkat dan Ancient Traditions in Toraja Houses of Mamasa, West Sulawesi (Ininnawa, Mei 2018).
Usai memeriksa naskahnya sekaligus membaca Tradisi Purba Rumah Toraja Mamasa, saya kian paham bagaimana harusnya memandang masyarakat Toraja Mamasa. Banyak hal menarik di dalam buku ini, semisal saya jadi lebih mengerti bahwa saya tidak bisa lagi menyamakan masyarakat Toraja Mamasa di Sulawesi Barat dan Toraja Sa’dan yang ada di wilayah administrasi Sulawesi Selatan—yang dulunya saya pikir sama saja lantaran kesamaan asal-usul dan keyakinan agama.
Mengapa demikian? Kees Buijs dalam Tradisi Purba Rumah Toraja Mamasa menjelaskan bagaimana perbedaan makna tentang rumah tradisional banua di Toraja Mamasa dan tongkonan di Toraja Sa’dan, justru, dengan melihat bagian yang paling dalam satu rumah, yakni dapur. Ia melacaknya dengan memulainya menceritakan siapa sebenarnya masyarakat Toraja Mamasa. Dari situ, ia berpindah menceritakan dari mana asal sebenarnya bentuk atap rumah berbentuk sadel kuda itu? Apakah merujuk ke bentuk perahu atau tanduk kerbau?

DENGAN membaca ketiga bukunya itu, saya kemudian merasa beruntung bahwa jawaban langsung Kees Buijs, ketika ia ditodong pertanyaan tentang bagaimana memisahkan dua identitas dalam dirinya (pendeta dan antropolog) pada April 2010 lalu, bisa saya bayangkan dan pahami.
Setelah itu pula, kali ini, saya makin yakin: jawaban tidak selalu hadir begitu pertanyaan terlontar. Jawaban bisa datang lekas, tapi kadang teramat baik bila datang lebih lambat.[]


Kamis, Maret 22, 2018

Halaman Rumah


Buku ini melacak sejarah kecil (petite histoire) tentang tiga kampung (Paropo, Rama, dan Sukaria) di Makassar lewat “pintu masuk” ranah yang disebut sebagai halaman rumah—yang memungkinkan kita melacak perkembangan wajah Kota Makassar.

Halaman rumah merupakan orientasi arsitektural orang Indonesia. Ia sebentuk pengertian luas dalam alam pikir mutakhir Nusantara. Sebab itulah, selain melacak sejarah kecil halaman rumah warga kota Makassar, buku ini memulung beberapa perspektif yang nostalgis hingga praktis dari Flores, Makassar, Solo, Yogyakarta, dan tempat lainnya dengan beragam perspektif, mulai seni, hukum, pengorganisasian, budaya, dll. 

Buku ini lantas menguak bagaimana halaman bisa menjadi ruang ekspresi, berfungsi sebagai panggung, ruang produksi, lanskap, hingga ranah pertukaran gagasan.

Buku yang melibatkan dua puluhan peneliti, seniman, pengacara, dosen, ibu rumah tangga, pekerja sosial dan seni, serta mahasiswa ini hasil kerjasama Tanahindie - Stichting Doen - Arts Collaboratory - Penerbit Ininnawa.

Jumat, November 10, 2017

Makassar Biennale 2017: Medan Perluas Wacana Maritim


DENGAN menetapkan tema abadi “Maritim”, Makassar Biennale (MB) 2017 seperti membebaskan diri dari beban yang selama ini ditanggungnya—sebagai ajang seni yang digelar di kota yang menjadi artefak hidup dunia kemaritiman Nusantara.

Biennale menjadi peristiwa sekaligus situs penting penanda geliat perkembangan kebudayaan di satu wilayah. Tidak cuma itu, MB pun mengarahkan dirinya sebagai ruang pertukaran pengetahuan khalayak umum dengan modus seni. 

Membicarakan catatan sejarah kawasan ini, seperti masa keemasan Kerajaan Gowa-Tallo, salah satu kerajaan maritim terbesar yang berkembang mulai awal abad ke-16, kita bisa membayangkan betapa temuan benda penting sangat dapat kita katakan hubungan antara seni dan pengetahuan. 

Ketika Raja Tumapa’risi Kallonna memerintah masa abad itu, ia membuat jabatan non-teritorial pertama di kerajaan ini bernama sabarana (syahbandar) yang disandang oleh Daeng Pamatte. Kronik Gowa melekatkan penemu aksara lontara’ ke sosok ini, meski kemungkinan besar sudah ada seratusan tahun sebelumnya. Namun pada masanya pertama kali negara menggunakan aksara tersebut. Masa setelahnya, Tunipallangga (1548-1565), inovasi tombak dan perisai yang lebih ringan dan produksi bubuk mesiu serta pembuatan peluru untuk senapan pun berlangsung (Gibson, 197:2009). Masa setelahnya, hidup dua orang cerdik pandai berwatak kosmopolit, Karaeng Pattingalloang dan Amanna Gappa. 

Pattingalloang, figur di balik kejayaan Gowa-Tallo kala itu, seorang ahli diplomasi, dan konsolidator ulung yang tergila-gila pada ilmu pengetahuan—memesan barang langka antara lain bola dunia, peta dunia, hingga teropong bintang (Lombard dalam Arsuka, 2000). Sementara Amanna Gappa, seorang matoa Wajo di Kerajaan Gowa-Tallo, menjadi perumus undang-undang kelautan yang tersohor, Ade’ Allopi-Loping Ribicaranna Pa’balu’e atau Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa (O. L. Tobing, 1961). 

Dari catatan sejarah tadi dapat dikatakan bahwa nilai-nilai kreativitas, sebagai tempias dari pertukaran pengetahuan antar-manusia berbeda latar dan asal, mendorong kemajuan dan kematangan peradaban di wilayah tertentu, melalui dunia maritim. 

Dengan demikian, seni yang bersenyawa dengan kemaritiman tidak bisa lagi dibatasi dengan sekadar merujuk pada bentuk visual tertentu. Yang juga sangat pokok adalah ‘nalar’-nya, perihal bagaimana isu kemaritiman ditempatkan sebagai bingkai dalam proses kreatif seniman agar tidak terjebak pada eksotisme bentuk visual. 

Melalui beberapa sesi seminar dan lokakarya, MB berharap, beragam kemungkinan dalam isu kemaritiman sebagai sebentuk ekosistem akan dieksplorasi dan dibincangkan.

Mengangkat kemaritiman sebagai tema besar kegiatan kiranya juga menjadi daya tawar tersendiri, di samping karena posisi Makassar sebagai kota pelabuhan yang tumbuh pada dua masa perdagangan utama di Nusantara, yakni perdagangan rempah-rempah dan kurun perdagangan dan industri teripang yang menjadikan bandar ini sebagai pusatnya. Hingga kini pun, Makassar sebagai bandar menjadi pintu penghubung yang strategis dalam konteks Indonesia mutakhir. 

Dengan keuntungan absolut inilah yang hendaknya menjadikan isu maritim sebagai ciri Makassar Biennale, terutama persentuhan dengan isu lain. Membicarakan maritim tak ubahnya membincangkan persoalan-persoalan hidup manusia yang saling berkaitan. Perhelatan ini memimpikan dirinya sebagai wadah besar yang ikut memberi saran (bahkan solusi) yang bertalian dengan hidup manusia yang lebih baik.

Pokok pikiran ini juga beririsan dengan salah satu visi dari kabinet Jokowi-JK yang hendak mengembalikan marwah Indonesia sebagai poros maritim dunia. Titik berangkatnya juga serupa, yakni kegelisahan atas sikap manusia Indonesia yang condong memunggungi lautan dan dipingit di pedalaman selama beratus tahun. Padahal, 160 juta penduduk Indonesia (60 persen) berdiam di kawasan pesisir. Perhelatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah penting untuk mewujudkan visi tersebut.

SAYA setuju dengan kurator MB 2017, Nirwan Arsuka, MB beruntung punya pembanding yang dekat dan bisa jadi rujukan (Jakarta Biennale dan Biennale Jogja). Tapi tantangan lain menunggu. “Makassar harus berjuang mendefinisikan dirinya, merumuskan karakternya agar tak menjadi sekadar pengekor dari biennale yang sudah ada, dan bisa menyumbangkan sesuatu yang memperkaya khasanah yang ada.” 

Namun, selama tiga pekan, MB berharap itu berlangsung lebih jauh. Dinamika dan cara pikir, berdialog, dan metode karya di dalam ajang ini tidak semata ingin menempatkan istilah ‘maritim’ menjadi sebatas ‘perairan laut’. Yang tak kalah penting bagaimana melihat, memikirkan, dan menggelutinya sebagai sebentuk ikatan dan ekosistem lingkungan hidup—dari hulu hingga hilir. Dari dalam akar hingga ujung atas pucuk daun. 

Hanya dengan begitu, seni menjadi cara pandang yang penting melihat persoalan di sekitar kita. Bisa menjelmakan bukti: seni sebagai jalan keluar.[]

*Diterbitkan di kolom Opini Tribun Timur, 8 November 2017.


Kamis, Oktober 05, 2017

Bagaimana Dapat Layanan Internet yang Bagus?

Kepada
Yth Telkom - Indihome
di Tempat

Sampai kini saya masih bingung, bagaimana mendapat pelayanan yang baik di Indonesia. Mengurus apa pun pasti bertele-tele, bahkan bisa tidak kelar-kelar. Saya baru saja alami ketika mengurus jaringan telepon dan internet Indihome berikut saluran-salurannya. Ceritanya begini.

Tanggal 7 September 2017, saya menelepon 147 untuk infokan kalau telepon dan internet di rumah saya sekaligus kantor saya mengalami gangguan. Telepon kresek dan internet nyala-padam. Beberapa saat setelah telepon saya tutup, layanan SMS 1147 mengabari kalau laporan saya sudah masuk dan terdaftar dengan nomor kupon IN20210898. Lumayan cantik nomornya.

Petugas datang, berbaju Telkom. Usai periksa, (mungkin) memperbaiki, dan menata kabel dan lainnya, ia sarankan ke saya untuk migrasi ke layanan prima jaringan optik dan kecepatan 10 Mbps. Kata si petugas, telepon kresek dan internet yang nyala-padam dikarenakan jaringan yang masuk ke rumah-kantor saya masih jaringan biasa (kabel tembaga). “Biarpun sudah diperbaiki, ini akan terjadi lagi karena jaringannya masih begitu,” kata Si Petugas.

Tidak ada biaya untuk migrasi ke kecepatan yang lebih besar itu, kata Si Petugas. Apalagi, tambahnya, semua layanan internet standar akan dipindahkan nanti ke kecepatan itu. 

Saya setuju. 

Bertindaklah Si Petugas dengan kawan-kawannya mengganti alat-alat yang menghubungkan modem, televisi, dan tetek bengeknya. Dia ganti yang baru. Remote modem tv putih diganti hitam mengilap. Si Petugas bilang, sambil membereskan peralatannya, tugasnya sudah selesai. Nanti akan ada petugas lain yang akan menyambungkan ke televisi.

Si Petugas pergi. SMS dari layanan 1147 datang lagi. “Pelanggan Yth, gangguan telepon 0411433775 dengan no tiket IN 20210898 telah diperbaiki. Mohon konfirmasi Y=Sdh baik, N=Blm baik, Balas sms ketik Y/N IN 20210898 (GRATIS) trm kasih.”

Jelas, karena jaringan ke televisi belum baik, saya balas, “N IN20210898”.

Jawaban datang hanya berselang tidak cukup semenit, “Mohon maaf no tiket anda tidak terdaftar atau sudah tutup.”

Saya beberapa waktu kemudian tidak memakai internet dan televisi. Mungkin sekisar semingguan. Saya coba minta bantuan ke seorang kawan yang bekerja di Indihome, esoknya datang petugas. Seorang lelaki lima puluhan tahun berbaju merah putih Telkom datang cukup pagi, sekitaran jam 9 atau 10. Tapi bukannya melayani, dia malah mengomel. Entah apa yang dibicarakan. 

Si tua pergi, datang petugas lain. Kali ini anak muda. Datang periksa, menelepon (mungkin rekannya), dan pergi. Janji untuk kembali. Nyatanya tidak. 

Singkat cerita, pada Senin 2 Oktober pukul 11, saya datang ke Kantor Telkom, di Jalan A.P. Pettarani. Saya dapat antrian A39 plus SMS dari Indihome yang menyambut kedatangan saya, “Pelanggan Yth, selamat datang di Plasa Telkom Pettarani. Nomor antrian Anda A39. Mohon tunggu untuk dilayani.”

Kronologi sama saya ulang kepada petugas costumer service berhijab yang menyambut saya. Ia tanya soal siapa nama petugas yang datang ke rumah saya. Saya jawab, itu tidak penting karena semua yang datang berseragam Telkom. Ia tersenyum kecut. Tapi kemudian ia sarankan untuk saya bayar tunggakan Agustus tagihan September. Oh iya, dia juga akui kalau saya pelanggan yang baik. Bayar tagihan cukup taat. Sesekalilah pasti terlambat, tapi tidak sampai seminggu baru bayar. Biasanya juga karena lupa karena ditelan kesibukan. Saya segera ke kasir, gesek ATM, dan lunas. Sebelum saya pulang, ia sebut kalau akan dilayani dalam 3 x 24 jam. 

Kalau begitu janjinya, baiklah. Saya berharap, semoga 3 x 24 jam itu ditepati. Saya berharap: Kamis, 5 Oktober 2017, pukul 11.11 Wita (jam tibanya SMS sambutan untuk saya saat di Plasa Telkom Pettarani Makassar) internet dan tayangan tv saya bisa nikmati lagi. 

Terima kasih!


Catatan:
Pada tanggal 5 Oktober 2017 sekisar pukul 17.00 Wita, Telkom mengirim petugasnya untuk mengembalikan ke jaringan tembaga. Jaringannya normal kembali.




Senin, Juli 03, 2017

Berpuasa dan Naik Ontel Demi Assikalaibineng


KETIKA pertama kali dicetak dan diperkenalkan ke khalayak tahun 2008, Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis (Ininnawa, 2008) menyita perhatian yang sangat besar. Media cetak dan elektronik di Makassar membahas topik ini dengan hangat. Pembeli menyerbu. Sampai-sampai Assikalaibineng naik cetak sampai tiga kali dalam sebulan. Harian Tribun Timur pun menyebut, jagat pustaka di Sulawesi Selatan dihebohkan atas terbitnya Assikalaibineng!

Telepon Redaksi Ininnawa berdering tidak henti karena pesanan. Bahkan staf redaksi Tribun Timur harus mengambil juga buku ke Ininnawa lantaran banyak pembaca mengira harian ini yang menerbitkan. Toko-toko buku diserbu. Beberapa toko buku Makassar, yang namanya baru saya dengar waktu itu, ikut memesan beberapa puluh eksemplar lantaran paparan pemberitaan. 

Wajar saja semua itu terjadi karena baru kali ini terkuak bahwa masyarakat Bugis dan Makassar rupanya memiliki pusaka tentang laku persetubuhan (suami-istri). Media menyebutnya ‘Kama Sutra Bugis’. Sebutan itu agaknya karena kemiripan isinya. 

Saya sendiri tidak setuju sebutan demikian. Ada hal berbeda di antara keduanya. Kamasutra ditulis satu orang (Vātsyāyana Mallanaga), sedang Assikalaibineng adalah ditulis-bersama, sebagaimana kecenderungan pengetahuan orang-orang Bugis yang mempraktikkan “pengetahuan warga” lewat lontara', yang mengajarkan tahap demi tahap seluruh laku di dalamnya (metode buku ‘how to’). Pendeknya, buku ini disusun dari sejumlah sumber yang saling melengkapi.

“Kayaknya bukunya harus kita pegang ketika di kamar,” seloroh Sirtjo Koolhof. Sirtjo adalah seorang peneliti bahasa Bugis yang ikut dalam proyek penerbitan I La Galigo paruh dasawarsa 1990.

Sejatinya, semua praktik Assikalaibineng yang terangkum dalam buku ini tidak berasal dari satu sumber pengetahuan. Apa yang kita baca bersama dalam kitab ini adalah pengetahuan yang diperoleh dari banyak lontara’ yang tersebar di banyak rumah tangga yang sempat dikumpulkan dalam satu proyek pernaskahan Badan Arsip Nasional Makassar. 


BANYAK pengakuan-pengakuan langsung pembaca yang disampaikan kepada saya tentang naskah ini. Kebanyakan tentang bagaimana ketika pengetahuan-pengetahuan dalam naskah seperti ini diturunkan kepada mereka kala mendekati hari pernikahan. Konon, mereka wajib berpuasa dalam jangka waktu tertentu untuk mendapatkan laku, doa, dan mantra Assikalaibinéng tersebut.

Yang menarik dari mereka juga adalah para pembeli. Mereka ke Kampung Buku dengan banyak jenis kendaraan. Dari mobil sampai naik sepeda ontel. Mobil biasalah ya. Tapi yang naik ontel itu luar biasa. Apalagi kalau di Makassar, itu sesuatu yang besar. 

Pengendaranya, sebut saja, namanya Si Bapak. Lelaki langsing dengan kisaran usia enam puluh tahun lebih itu datang ke Kampung Buku berboncengan dengan sang istri, dengan mengayuh sepeda ontelnya lima kilometer dari rumahnya di sekitaran Jalan Bung, Tamalanrea. Ia datang sore, dengan melintasi jalanan Makassar yang sangar (pengendara lain jarang memperhatikan orang yang berjalan kaki atau bersepeda). 

“Saya datang beli karena anak saya ambil buku saya. Terpaksa saya datang beli lagi,” kata Si Bapak. Istrinya hanya menunggu di luar pagar.

Sambil mengingat lagi riuhnya jalanan di Makassar, saya hanya bisa berdecak kagum dan tak lupa mendoakan Si Bapak dan istri selamat sampai kembali ke rumahnya.

Hal yang terjadi pada pengetahuan Assikalaibineng lantaran di dalamnya dibeberkan pengetahuan seks yang dipraktikkan masyarakat Bugis sejak lama, yang diabadikan dalam teks lontara’ dan tersebar di banyak pelosok Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, kini hadir dalam bentuk buku yang ada di hadapan Anda. Pengetahuan ini menjelma sebagai ‘senjata pamungkas’ kalangan tertentu terkait pengetahuan-pengetahuan spesifik. Bahkan Assikalaibinéng dulunya hanya beredar di kalangan istana. 

Inti dari sekian banyak teks itu mencakup konsep hubungan seks, pengetahuan alat reproduksi, tahap hubungan seks, teknik rangsangan, doa dan mantra seks, gaya persetubuhan, teknik sentuhan sensual pada perempuan, penentuan jenis kelamin anak, pengendalian kehamilan, waktu baik dan buruk dalam berhubungan, tata cara pembersihan tubuh, hingga pengobatan kelamin. Semua menjadi rangkaian laku mewujudkan hubungan seks yang indah dan anggun.


BAGI Ininnawa, sebuah penerbit kecil, bajakan atas terbitan perihal yang lumrah. Apalagi menurut beberapa mahasiswa pasca sarjana yang selama ini tahu kerja Ininnawa, membawa info bahwa buku kerja mesin penyalin itu sebenarnya tidak banyak. “Paling dua tiga eksemplar,” kata Icul, teman saya yang sempat kuliah di UGM.

Assikalaibinéng pun tidak luput dari praktik ini. Karena itulah Ininnawa dan Muhlis Hadrawi lantas sepakat hentikan pencetakan karena soal pembajakan. Namun sambil menunggu reda soal bajakan, selama empat lima tahun, Muhlis juga memberi tambahan beberapa hal berkait dengan topik Assikalaibinéng. 

Tapi payah di kami. Ininnawa dan Kampung Buku jadi sasaran para penagih pembaca. Permintaan mereka datang dalam banyak cara, offline maupun online. Ada yang bertanya dan datang langsung, telepon, apalagi email. Tempat mereka kadang membuat heran. Ada yang di Sulawesi Selatan, Papua, Sumatra, dan negeri jiran macam Singapura dan Malaysia (kalangan keturunan Bugis dan Makassar yang beranak pinak di sana). 


SINGKAT cerita, buku itu kini terbit lagi. Cetakan kelima, edisi revisi. Perubahan itu dikarenan penambahan isi dalam versi Assikalaibineng cetakan pertama hingga keempat. Buku ini juga berisi lontara kutika.

Lontara kutika adalah konsep astrologi masyarakat Bugis yang dianggap sebagai bentuk pengetahuan yang mengaitkan persepsi waktu, seksualitas, kualitas hidup, dan segi kehidupan lain manusia. Catatan masa lampau semacam ini menjadi astrologi lokal yang dipedomani dalam kegiatan masyarakat seperti membangun rumah, penentuan pesta perkawinan, merantau, berdagang, bertemu orang penting, sampai aktivitas pertanian dan kelautan.[]

Cek detail bukunya di Goodreads!

Sabtu, Juni 10, 2017

Si Gadis Kota Menginap di Rumah Tetangga

Di antara teman masa kuliah, Yunike NS adalah salah seorangnya yang jarang bisa saya temui. Lainnya, saya gampang janjian. Waktu mereka tersedia lumayan lowong, terutama sore atau malam. Untuk Nunik, panggilan saya ke dia, wah ... bakal seperti mau minta tanda tangan artis.

Singkat cerita, saya bertemu Nunik pada malam ketiga takziyah mendiang ayahnya, Najamuddin Sultan, kepanjangan inisial yang selama ini ada di belakang namanya. Menjelang pulang, Nunik punya permintaan berat. “Pinjam Isobel semalam,” katanya.

Saya pikir, permintaan itu sepertinya akan menyempurnakan pertemuan Isobel dengan Illi, anak perempuan Nunik, yang pertama dan terakhir tahun 2010 lalu. Dua balita ketika itu bermain seperti biasa waktu itu. Tapi yang lucu bagi kami adalah kemiripan wajah mereka.
Pertemuan Isobel dan Illi tahun 2010.
Di jalan dan di rumah, saya semula tidak percaya. Bukankah Nunik sibuk? Tapi lewat pesan Whatssap yang beruntun, dia yakinkan lagi dengan pertanyaan ‘boleh ‘kan”. Saya tahu persis Nunik bagian ini. Ngototnya tak terperi.

Dalam pikiran saya, ada baiknya kesempatan ini dipakai. Isobel bakal mengalami satu pengalaman baru: menginap di rumah asing. Apalagi bersama si empunya rumah, Illy yang jadi teman bergaul sesama perempuan muda. Sayangnya, Piyo, istri saya, belum rela. Ia enggan melepas perawatan anak ke orang ‘baru’—meski ‘cuma’ semalam.

Rupanya dari percakapan kami, saya jadi tahu bahwa pengalaman Piyo menginap di ‘rumah orang’ memang nihil. Ia besar di Wawondula, permukiman sekitar Sorowako, kota kecil yang menjadi lokasi tambang nikel PT Inco (sekarang PT Vale). Tumbuh di permukiman berkarakter kota (dengan para penghuni yang dipertemukan kewajiban kerja seperti Wawondula dan sekitarnya) tampak kecil mungkinnya Piyo (untuk tidak mengatakan: nihil) untuk mencicipi pengalaman seperti kami.

Berbeda dengan saya dan Nunik, kami besar di kampung. Saya di Rappang, Nunik (rasanya) di Polmas. Menginap di “rumah orang lain” adalah satu hal yang sudah biasa. Nunik mengaku masa kecilnya sering bersama saudara sepupunya menginap. Saya kurang atau lebih juga begitu. Besar di kampung belum ada rasa khawatir tentang “rumah orang lain”. Iler saya pernah menjajal seprai dan bantal tetangga kiri kanan depan belakang. Begitu juga tetangga dan sepantaran masa kanak dan remaja pernah tidur di rumah saya.

Saya pun yakinkan Piyo kalau Nunik dan saya bukan kenal baru kemarin. Saya dan Nunik seangkatan kuliah. Kami satu ‘letting’ hampir empat puluhan orang saja. Sejak mahasiswa baru sampai ada tulisan ini kami masih sering bertemu (tentu tidak lengkap). Bahkan waktu di kampus, angkatan kami terlalu mencolok karena selalu berombongan (hal yang pernah ditanyakan beberapa junior angkatan tentang tabiat ini dan dari Piyo sendiri). Di masa-masa paceklik yang mengharuskan kami menginap di kampus (demi menanggung lapar berjamaah karena kiriman tersendat), Nunik bisa tiba-tiba jadi dewi penolong. Bermodal telepon koin, kami mengebel rumahnya untuk cari kemungkinan apa bisa membawa serantang nasi dan lauk dari rumahnya di BTN Hamzy ke Kampus Unhas. Dan modal keping seratus bergambar rumah gadang itu kami nyaris tidak pernah gagal membawa bekal dari sana. Yang tidak mungkin saya lupakan sepanjang hayat adalah pengalaman tahun ketiga mahasiswa ketika Nunik memaksa Kak Mus, kini suaminya, untuk mengurung saya agar istirahat seminggu usai mereka ‘seret’ ke dokter karena  dihajar tipes.

“Di kota, tetangga kita mungkin bukan rumah yang ada di samping. Tetangga kita adalah teman-teman dekat seperti Nunik,” kata saya.

Piyo yakin pada akhirnya.

Beda dengan Piyo yang pelan-pelan baru mantap, Isobel justru meloncat begitu ditawari “menginap di rumah Kakak Illi” sepulang takziyah. Segera ia siapkan semuanya (padahal belum pasti dibolehkan). Tas diisi mainan dan beberapa lembar pakaian. Respons seperti itu selalu Isobel muncul kalau mendapat tawaran pengalaman dan perjalanan baru, seperti kalau mengajaknya ke kampung.

Nunik datang menjemput Isobel dua hari kemudian. Begitu naik di mobil, Isobel mengolok ibunya, yang masih berat melepas penuh gadis delapan tahun itu menginap di “rumah orang lain”. Kiriman pesan beruntun dari Nunik yang kemudian makin membuat Piyo yakin bahwa segalanya berjalan baik-baik saja.

Isobel dan Illi tiba di Hamzy. Kedua gadis kecil ini membahas baiknya menginap di mana: Hamzy atau Sudiang. Mereka lalu putuskan di Sudiang. Mereka main perang bantal di sana, sebelum minta matikan lampu jam 11.00 malam untuk siap-siap bangun sahur. 
(Foto-foto: Yunike NS)
Isobel, kata Nunik, terbangun jam 3 untuk sahur (tahun ini ia mulai puasa penuh). Mungkin karena tempat baru. Keesokannya mereka menggambar di kamar, lalu berangkat ke taman bermain di mal.

Saya tidak tahu pasti apa guna acara ‘nginap’ begitu. Untuk anak yang tumbuh di kota kayak Isobel (dan mungkin juga bagi Illy), pengalaman ala kampung macam itu bisa jadi cara mempelajari suasana lain, belajar jadi tamu, bagaimana bertoleransi, bergaul dengan sepantar, atau mengalami tentang “teman-teman dekat adalah tetangga”.

Bagi Nunik, ia akui sedang belajar seperti bagaimana ia menaklukkan hati Illy yang sempat ngambek karena sang ibu berbagi perhatian pada anak lain. Saya menduga-duga, sedikit banyak, kesibukan Nunik berkantor mungkin mengurangi intensitasnya bersama Illi. Semoga tidak.

Bagi saya dan Piyo, saling percaya memang harus dipelajari dan diasah. Berkali-kali. Bahkan terus-menerus. Barangkali.[]

Senin, Juni 05, 2017

Geliat Ekonomi Kerakyatan di Paotere

Mengapa Makassar (Masih) Penting bagi Indonesia Mutakhir?

KETIKA Presiden Joko Widodo mencetuskan “... Memperkuat jati diri sebagai negara maritim” dalam sembilan program pokok pemerintahannya, Kota Makassar seperti mendapat angin segar lagi. Kota berwilayah 70 persen berupa laut (995 km2) seperti tinggal menunggu momentum formal ini. 

Dengan letak geografi sebagai penghubung Indonesia Barat dan Timur, industri perikanan Makassar sejak lama menjadi pemasok penting Nusantara. Kota ini pun menghidupkan dunia pelayaran nasional dan pelayaran rakyat sedang dan kecil sebagai titik utama bongkar muat barang dan manusia. Keduanya menyatu dalam satu poros hidup: Paotere.

Inilah daerah yang meliputi dua titik utama, Pelabuhan Rakyat Paotere dan Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Paotere. Dua tempat berdampingan ini terletak di Jalan Barukang, Kecamatan Ujung Tanah, bagian utara Makassar, 6 kilometer di barat muara Sungai Tallo.

Pada awal dasawarsa 1990, Paotere memperkuat kapasitasnya. Wisata Bahari Makassar (2006) menyebut, sejak tahun 1982 kolam pelabuhan dilindungi pemecah gelombang sepanjang 400 meter; kolam 4,56 hektar berkedalaman antara 1-6 meter dengan dermaga sepanjang 820 meter. Kolam ini bisa menampung 200 perahu, dan terdapat 400-500 buah kapal dari 40 perusahaan pelayaran yang secara berkesinambungan menggunakan fasilitas ini.

Sampai kemudian di bandar ini berkumpul perahu-perahu tradisional seperti kapal kargo lambo dan pinisi atau perahu-perahu penumpang antar pulau seperti jolloro atau katinting (Lihat Tabel 1). 

Tabel 1 Jumlah kapal yang berlabuh di Pelabuhan Paotere 2007-2016.

Kapal dan perahu ini berperan utama dalam lalu lintas barang dan manusia dari dan menuju Makassar. Paotere seluas 10 ha ini menjadi terminal bagi masyarakat di kepulauan sekitar Makassar, seperti Pangkep, Maros, Takalar, dan pulau-pulau yang ada di Selat Makassar.

Menurut Kepala Pelindo 4 Unit Paotere, Amirullah, mereka biasanya bawa ikan, lalu pulang membawa barang kebutuhan masyarakat di pulau-pulau. “Ini bisa kita sebut ‘pelayaran semut’, lubang-lubang sekecil (baca: pelosok) bagaimana pun mereka masuki,” kata Amirullah. 

Selain kawasan sekitaran Makassar, kapal-kapal kayu yang berasal dari Paotere menuju ke daerah di Indonesia Timur seperti Samarinda dan Balikpapan (Kalimantan Timur), Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Palu, Toli-Toli, sampai Manokwari (Papua).

“Kapal-kapal dari pelabuhan rakyat seperti ini sejak lama seperti tol laut karena berlayar lurus-lurus, mereka tidak pernah mengambil rute menghindari kedangkalan. Berbeda dengan kapal modern yang harus memutar sebab mempertimbangkan kedalaman,” terang Amirullah, tersenyum.

Selain itu, aktivitas bongkar muat di Paotere menunjukkan bahwa ia juga menjadi pintu pemasok kepulauan sekitar dan wilayah Indonesia Timur, dengan membandingkan antara barang yang diturunkan (Bongkar) ke dan yang dinaikkan (Muat) dari Makassar (lihat Tabel 2).
Tabel 2 Jumlah Aktivitas Bongkar Muat di Pelabuhan Rakyat Paotere, Makassar, 2007-2016 (dalam Ton/M3/Ekor)

SELAIN pelabuhan, suplai ikan yang dipasok oleh Makassar ditopang lima pelelangan, yakni Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Paotere, TPI Rajawali, TPI Barombong, Daya, dan Langgau. Sekurangnya 70 – 100 ton ikan berdatangan ke sana setiap hari, baik pasokan dari kabupaten maupun hasil tangkapan nelayan Makassar yang berjumlah 14.375 jiwa. 

Tonase itu kemungkinan besar segera bertambah lantaran Pemerintah RI merampungkan dan meresmikan Pelabuhan Untia pada 2016, bandar terbesar kedua di Indonesia yang mampu menampung 500 kapal per hari. 

Menurut Kadis Perikanan dan Pertanian Makassar, DR. Abdul Rahman Bando, sebagai pemasok ikan, Makassar menyediakan dua gudang pendingin di Paotere (kapasitas 100 ton) dan Untia (40 ton). 

PPI adalah satu dari sedikit titik di Makassar yang tidak pernah tidur. Aktivitas bongkar muat PPI mulai pagi sampai pagi berikutnya dan seterusnya. Perahu yang mendaratkan ikan tangkapan akan dijemput oleh banyak tangan. Dari perahu menuju punggawa, lalu ke pagandeng (pengayuh sepeda atau pengendara motor) yang menyebar dan berkeliling ke pelosok kota yang menjual ikan sampai ke kompleks perumahan dan disalurkan ke rumah-rumah makan sebesar 35-40 ton; atau dijemput mobil-mobil pengangkut dari daerah lain, atau sebagian lagi diboyong ke kawasan KIMA untuk dipilih oleh pengirim ke daerah lain di Indonesia (pertengahan Maret 2107, nelayan binaan Dinas Perikanan mengirim 20 ton ikan ke Jakarta) atau diekspor ke Singapura, Timur Tengah, atau Eropa. Kesibukan di sana baru cenderung surut begitu matahari meninggi.

Tabel 3
Perikanan Tangkap Makassar Tahun 2014 (Tidak Termasuk Perikanan Air Tawar)

NAMUN potensi perekonomian itu kelak sia-sia tanpa kebijakan pemerintah yang memadai. Kepala Pelindo 4 Unit Paotere, Amirullah, daya jelajah kapal-kapal kayu itu jelas memerlukan perlindungan. Ia melihat bahwa nilai strategis ‘pelayaran semut’ ini menjadi jembatan penghubung pulau satu dengan pulau lain. Untuk itulah dibutuhkan regulasi terkait perlindungan bagi pembuatan kapal kayu.

Sudah jamak bila ada kapal kayu karam, belum tentu segera terganti kapal kayu lain. Itu belum lagi bila mempertimbangkan soal bahan baku. 

“Dengan memberi aturan khusus yang berkaitan dengan pembuatan kapal kayu, juga pertimbangan kelangkaan bahan baku, maka pemerintah perlu berpikir regulasi soal ini,” terangnya.

Pekerjaan rumah lain bagi Paotere adalah lalu lintas. Tiga tahunan bertugas di Paotere, kata Amirullah, kapal kayu begitu banyak. Sayangnya, belum terorganisir baik. 

“Dalam 1 x 24 jam, kapal besi sudah melapor sebelum sandar. Tapi kapal kayu justru sudah sandar 1 x 24 jam, belum meminta PPKB (Permohonan Pelayanan Kapal dan Barang) juga,” katanya, terbahak.

Dari perikanan, nilai produksi perikanan kawasan Selat Makassar terancam turun. Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menyebut nelayan Sulawesi Selatan dikenal sebagai ‘penjahat laut’ karena biasa menggunakan peledak kala menangkap ikan yang menyebabkan sekisar 80 persen terumbu karang di Sulsel rusak.

Abdul Rahman Bandu dalam penelitiannya di Kepulauan Spermonde menyebut, keterbatasan alat tangkap sebagai satu sebab. 

“Nilai modal seperti BBM dan kebutuhan selama melaut tidak bisa seimbang dengan nilai tangkapan (produksi). Wajar kalau mereka pakai bom. Itu ditambah untuk membeli alat tangkap lebih besar yang tersedia nyatanya mahal karena rata-rata barang impor. Karena itulah ada ketergantungan pada pemodal yang membuat mereka berutang tanpa henti,” ungkapnya.

Bagi Abdul Rahman, kebijakan pemerintah baiknya tidak berhitung untung rugi jangka pendek bagi masyarakat pesisir atau kepulauan. Mereka perlu dikuatkan dengan pembangunan fasilitas seperti gedung sekolah tanpa menghitung rasio murid, telekomunikasi, pengisian bahan bakar dan oksigen, fasilitas pengolah air bersih, dll.

Paotere dengan daya tampung, daya serap, dan daya jelajah distribusinya membuktikan bahwa titik ini amat penting bagi Indonesia mutakhir. Selayaknya, Nawa Cita Presiden Jokowi menjelma sebagai momentum formal yang berpihak dan melindungi geliat ekonomi kerakyatan kawasan Paotere dan sekitarnya.

Saatnya bangsa ini melihat peluang bukan dalam alur logika ekonomi. Menopang kehidupan nelayan menjadi langkah penguatan daya yang menggeliatkan dunia maritim Indonesia, hamparan yang mendominasi negeri kita. Bila pun memasukkannya dalam nalar ini, ia patut menjadi rangkaian sirkuit investasi, sebentuk pengembangan masa depan. Jalan leluasa menuju masa mendatang yang matang bagi Indonesia.[]

(Terbit di Esquire Indonesia, Mei 2017)

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP